Memendam emosi atau perasaan tidak hanya berdampak pada gangguan psikis tetapi juga dapat berdampak langsung pada gangguan kesehatan tubuh. Ada beberapa penyakit yang terjadi jika Anda sering memendam emosi.
“Emosi dan perasaan trauma yang tidak ditangani dengan baik, lama-lama dapat menumpuk pada bagian tubuh dan berpotensi menimbulkan penyakit. Ini karena orang yang emosinya kacau otomatis imun tubuhnya turun, napas berantakan, suhu tubuh naik, depresi atau terlihat lebih tua, juga emosi negatifnya lama-lama menumpuk di bagian-bagian tubuh lain,” ujar Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia (EHI) dalam acara Emotional Healing Group Therapy di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Berikut beberapa penyakit yang berhubungan dengan emosi, yaitu:
1. Alergi, karena penyangkalan akan kekuatan dan kemampuan diri.
2. Radang sendi, karena perasaan tidak dicintai, ditolak dan perasaan dikorbankan.
3. Demam, karena perasaan marah yang tidak mampu diekpresikan.
4. Ginjal, karena kekecewaan, perasaan gagal, rasa malu yang ditekan.
5. Maag, karena takut, cemas, perasaan tidak puas pada diri sendiri.
6. Penyakit paru-paru, karena putus asa, kelelahan emosional, luka batin.
7. Sakit punggung, karena ketakutan akan uang, merasa terbebani.
8. Sakit pinggang, karena rasa tidak dicintai, butuh kasih sayang.
9. Jantung, karena rasa kesepian, merasa tidak berharga, takut gagal dan marah.
10. Kanker, karena kebencian terpendam atau makan hati yang menahun.
11. Diabetes, karena keras kepala, tidak mau disalahkan.
12. Glaukoma, karena tekanan dari masa lalu dan tidak mampu memaafkan.
13. Jerawat, karena tidak menerima diri sendiri, tidak suka pada diri sendiri.
14. Pegal-pegal, karena ingin dicintai dan disayangi, butuh dipeluk dan kebersamaan.
15. Obesitas, karena takut, ingin dilindungi, kemarahan terpendam, tidak mau memaafkan.
16. Mata minus, karena takut akan masa depan.
17. Mata plus, karena tidak mampu memaafkan masa lalu.
“Orang yang emosinya tenang, apapun yang dilihatnya lebih jelas. Bila Anda punya masalah lalu dibawa ibadah, mau sujud beribu-ribu kali kalau emosi Anda belum tenang akan percuma,” lanjut Irma.
Menurut Irma yang sudah menangani lebih dari 5.000 klien yang bermasalah dengan emosi, cara terbaik untuk merespons emosi khususnya emosi marah adalah dengan mengeluarkannya dengan cara yang baik dan santun atau bicara baik-baik dengan orang yang membuat kita kesal.
“Misal Anda kesal dengan orang A, maka Anda harus menyampaikan pada orang itu bahwa Anda tidak suka dengan tindakan dia, tapi dengan cara yang halus, santun dan bukan marah-marah. Jangan melemparkan emosi kesal Anda pada orang lain, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Jika sekiranya Anda tidak mungkin menyampaikannya, misal dia adalah bos atau orang yang punya jabatan tinggi, maka lakukan sending love. Tetap bersikap baik pada dia sambil mendoakan dia hal-hal yang baik, semoga dia berubah dan berkah, atau berdoa untuk diri sendiri semoga mendapatkan hal-hal baik. Jangan Anda malah mendoakan yang jelek-jelek karena itu akan jadi emosi yang negatif untuk diri Anda sendiri,” tutup Irma.
Selasa, 13 Maret 2012
Peran Orang Tua Dalam Memilih Jurusan Kuliah
Tiga Pertimbangan Umum
Dalam waktu yang tidak lama lagi, putra-putri kita yang kemarin mengikuti UAN SLTA, akan memasuki jenjang kuliah. Biasanya, tidak sedikit yang bingung "Jurusan apa yang pas untuk saya ?". Orangtua pun tak kalah bingungnya, "Jurusan apa yang pas untuk anak saya?". Ini karena antara orangtua dan anak terkadang punya opini yang berbeda dalam melihat jurusan dan prospeknya di dunia kerja. Jadi bagaimana?
Secara umum, dukungan atau bantuan orangtua itu mutlak dibutuhkan. Cuma, sejauhmanakah bantuan itu dibutuhkan, akan sangat mungkin berbeda-beda. Seperti yang dialami oleh Pak Roni dari Banyuwangi. Anak pertamanya yang perempuan sejak lulus SLTA sudah mandiri dan sudah tahu jurusan yang pas untuk dia. Tapi anak keduanya yang laki-laki setiap kali ditanya tentang hal ini, tak ada jawaban yang meyakinkan, sepertinya dia tidak tahu harus kemana.
Kalau mau pakai acuan yang ideal, mestinya anak-anak itu memilih jurusan kuliah berdasarkan tiga pertimbangan di bawah ini:
Cita-cita: panggilan hati, hasrat sejatinya untuk berperan di bidang tertentu, dst
Bakat / Minat: kelebihan alamiah yang dimiliki, baik secara akademik atau non-akademik
Panggilan tanggungjawab: ingin meneruskan perjuangan orangtua, ingin membantu masyarakat tertentu, seperti ingin membantu petani, orang cacat, dst
Meski nampak sederhana, tapi dalam prakteknya tidak semua anak punya pengetahuan yang meyakinkan tentang ketiga hal di atas. Belum tentu anak kita tahu dimana bakat dan minatnya. Belum tentu cita-citanya itu relevan dengan keadaan dirinya dan orangtuanya. Karena itu, bantuan dan dukungan orangtua menjadi penting, entah untuk mengungkap yang belum diketahui atau untuk menegaskan yang sudah ada.
Penilaian Individual
Dasar yang mestinya kita pakai untuk menentukan dukungan adalah keadaan si anak. Anak seperti Riana Helmi, putri Indonesia yang lulus dari fakultas kedokteran UGM dengan usia 17 tahun, mungkin agak kurang pas kalau terlalu di dikte. Bisa-bisa malah melawan atau malah pasif. Untuk mengetahui keadaan anak, kita bisa memakai penilaian individual yang berbasiskan empat pertimbangan di bawah ini:
Jika dia termasuk anak yang pede (percaya diri) dan tahu diri: tahu kelebihannya, tahu cita-citanya, dan tahu kemana dia akan melangkah secara akurat atau berdasarkan bukti-bukti faktual selama ini, maka peranan kita adalah bertanya dan mendukung dari belakang.
Jika dia termasuk anak yang sebenarnya memiliki kelebihan dan cita-cita yang jelas, namun tidak pede atau setengah pede, maka peranan kita adalah membantu untuk menegaskan pilihannya berdasarkan bukti dan penjelasan, entah dari belakang, dari tengah, atau dari depan.
Jika dia termasuk anak yang blank dan sangat menunggu bantuan kita, maka peranan yang pas adalah pendampingan. Kita perlu mengajak dia mendiskusikan banyak hal tentang minat-bakatnya atau cita-citanya. Bahkan kalau perlu sama-sama mencari informasi mengenai fakultas yang pas dari berbagai sumber.
Jika dia termasuk anak yang tidak tahu, tidak mau tahu, dan tidak bergairah dikasih tahu, atau lebih mementingkan ego-nya ketimbang kemaslahatannya, mungkin tidak cukup hanya berbicara soal jurusan. Bisa-bisa butuh penyadaran lebih dulu baru pengarahan. Jika dengan ayahnya diam, bisa ibunya yang maju. Bila tidak mempan dua-duanya, bisa minta bantu orang lain yang dianggap berwibawa, seperti guru, senior, saudara, dst.
Terlepas apapun keadaan anak kita, hendaknya kita tetap mengingat kebutuhan umum perkembangan para remaja. Satu sisi, mereka memang tidak ingin terlalu di dikte seperti kita memperlakukan anak-anak karena mereka ingin menunjukkan siapa dirinya. Tapi di sisi lain, moral dan mental reasoning-nya masih belum sekuat orang yang sudah dewasa. Jadi bisa dibilang, jangan terlalu percaya atau jangan terlalu meragukan.
Penilaian Sosial
Selain bisa melihat dari sisi individualnya, bisa juga kita melihat keadaan anak kita dari sisi sosialnya. Remaja / anak muda itu berbeda dengan orangtuanya. Remaja lebih mengelompok, sementara orangtua lebih individual. Kata Aristotle, yang dominan mengisi pikiran orangtua adalah keluarga dan tempat kerja. Dari kelompok yang dipilihnya itu, kita bisa membuat penilaian sebagai bantuan untuk menentukan dukungan.
Berdasarkan praktek hidup dan hasil laporan studi, misalnya yang ditulis oleh Judith Rich Harris (The Chlid: 1991), kita bisa mengindentifikasi termasuk kelompok remaja yang manakah anak kita itu. Secara umum, remaja dapat dibedakan kelompoknya sebagai berikut:
Kelompok idola: hebat di lapangan atau di pangung, berwibawa dan ganteng atau cantik (the idol crowd)
Kelompok populer: terkenal di mana-mana atau aktif dimana-mana dan terdepan di mana-mana (the populer crowd)
Kelompok pintar: bintang kelas, intelek, elit, eksklusif, dan menerima perhatian khusus dari sekolah (the brain crowd)
Kelompok bengal dan nakal (the lawbreaker crowd)
Kelompok normal atau biasa-biasa (the normal crowd)
Kelompok yang merasa bukan siapa-siapa dan tidak dipandang siapa-siapa (the nobody crowd)
Melihat sisi sosial anak-anak kita terkadang menjadi penting. Penilaian sosial malah seringkali menjadi tujuan bersikap anak-anak / remaja. Yang perlu di perhatikan, jangan sampai anak-anak hanya melihat pilihan yang dianggap baik / keren / mendapat nilai plus dari lingkungan sosial. Oleh karenanya, orang tua sebaiknya mengajak anak melihat pilihan-pilihan lain. Dunia tidak seluas daun kelor. Orang tua bisa bisa membantu anak mengenali minat /bakat/ kelebihannya, untuk menentukan pilihan studi. Bahkan, kesempatan itu bisa juga digunakan untuk menegaskan agenda perubahan, tentu, ke arah yang lebih baik.
Seperti kita alami dulu, pengaruh faktor eksternal masih sangat dominan membentuk perilaku remaja, kecuali bagi yang sudah dibiasakan dari kecil dengan disiplin. Berbagai riset membuktikan, anak yang telah dilatih dengan disiplin secara baik, ternyata memiliki self-esteem yang lebih bagus sehingga dia tidak mudah terpengaruh. Artinya, sejauh kita masih melihat tanda-tanda kerentanan terhadap faktor eksternal yang tidak mendukung, antisipasinya adalah membantu mereka menemukan lingkungan yang mendukung. Kalau tidak, saran Bernard Shaw, ya kita yang harus menciptakannya.
Sudah banyak kasus yang mengungkap perubahan perilaku remaja dari positif ke negatif atau sebaliknya karena pengaruh orang lain dan keadaan (lingkungan). So, dari pengalaman sejumlah orang, setiap orangtua punya peranan penting dalam mengajarkan anak mentransformasikan pengalaman pahit, misalnya putus cinta, bentrok dengan teman, atau gagal, menjadi pelajaran positif.
"Setiap orangtua punya peranan penting dalam mengajarkan anak mentransformasikan pengalaman pahit agar arah perubahannya positif."
Bantuan Menemukan Minat & Bakat
Seperti yang sudah sering kita bahas di sini, setiap orang itu PASTI memiliki bakat, dalam arti berbagai kelebihan personal yang menjadi karakteristik pembeda antara dirinya dan orang lain. Bahwa ada bakat yang disebut bakat normal (success people) dan bakat istimewa (extraordinary people), itu soal lain. Tuhan punya hak veto untuk membedakan manusia dan menyamakannya.
Anak dengan bakat istimewa (giftedness, genius, laduni, dan berbagai istilah lain), umumnya telah memiliki pembimbing di dalam dirinya, yang oleh Jhon Dewey, pakar pendidikan terkenal, disebutnya dengan istilah "internal instructor", panggilan batin yang terus membimbingnya sehingga mereka punya cara belajar, format psikologis, atau prilaku yang lebih unik.
Terus terang, jumlah anak dengan bakat istimewa ini tidak banyak dibanding dengan jumlah populasi penduduk dalam suatu negeri. Sebagian besar manusia memiliki bakat normal atau berbagai kelebihan yang kalau ditemu-kenali dan diasah akan mengantarkannya pada pencapaian prestasi tertentu (success people). Hanya saja, bagi sebagian remaja, menemu-kenali bakatnya sendiri bukan soal mudah.
Itulah kenapa keterlibatan kita menjadi penting. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka menemu-kenali bakat dan minatnya itu? Di bawah ini ada sejumlah petunjuk yang bisa kita pilih sebagiannya:
Melihat hasil tes bakat yang dilakukan oleh lembaga profesional di sekolahnya atau lembaga yang kita tunjuk
Menyimak penilaian, komentar, atau opini orang lain yang terpercaya tentang kelebihannya, katakanlah wali kelasnya, guru privatnya, dll.
Melihatnya dari garis keturunan atau faktor jenetik keluarga
Melihat dari karakteristik individual yang paling mudah muncul ketika si anak berinteraksi dengan orang lain, misalnya cenderung menjad pemimpin, suka menjadi tempat curhat, tempat bertanya pelajaran, dll.
Melihat kegiatan tertentu yang membuat dia tertarik untuk melakukannya secara alami, misalnya menulis, mengajar, dst.
Melihat kegiatan tertentu yang membuat dia cepat mempelajari dan menguasainya
Melihat kegiatan yang langkah-langkahnya muncul secara otomatis dari dalam dirinya, misalnya begitu diajari satu, dia sudah tahu sendiri yang kesepeluh
Melihat kegiatan yang secara tidak disadari dapat dia lakukan dengan baik
Melihat kegiatan yang membuat dia puas bila melakukannya, merasa tidak ada beban, dan senang melakukannya
Melihat hobi, klub, atau lingkungan yang ingin dia masuki
Melihat nilai akademiknya, baik formal atau informal
Melihat kemampuan tehnis tertentu yang bisa dikuasinya dengan cepat dan bagus.
Itu semua adalah sifatnya adalah alat bantu. Seperti kita tahu, jikalau alat bantu itu berhasil kita gunakan dalam mengungkap bakat dan minatnya, bakat sendiri bukan satu-satunya faktor sukses (berprestasi). Sudah banyak anak yang menemukan bakatnya, namun tak bisa digunakan untuk berprestasi, baik di tempat kerja atau di sekolah.
Kalau melihat ke prinsip-prinsip dasarnya, setelah bakat itu ditemukan, manusia membutuhkan petunjuk yang disebut cita-cita atau tujuan hidup. Butuh juga motivasi yang kuat untuk mengasah bakat dan untuk memperjuangkan cita-citanya. Butuh juga relasi atau koneksi yang membimbing atau memberi dukungan. Butuh juga kompetensi atau kemampuan menggunakan pengetahuan, pengalaman dan keahlian dalam sebuah tugas. Butuh juga nilai-nilai yang memperkokoh jiwanya dan lakunya.
VISI-MOTIVASI-KOMPETENSI-RELASI-NILAI
Berhati-hati Membaca Nilai Akademik
Berpatokan pada nilai akademik itu bisa menyesatkan dan bisa pula mencerahkan, tergantung bagaimana kita membacanya. Misalnya anak kita mendapatkan nilai bahasa sangat bagus. Atas dasar itu, kita kemudian membuat judgment bahwa bakat anak kita itu di bahasa.
Akan mencerahkan kalau itu kita baca bahwa bakat anak kita yang sudah terungkap adalah bahasa, sementara yang lain-lain masih belum. Ini akan menghasilkan penilaian yang mendorong, membuka, dan memberdayakan. Siapa tahu dia punya bakat dan minat yang lebih dari itu? Tapi bila itu kita baca secara hitam-putih, biasanya penilaian yang muncul akan sangat cenderung membatasi.
Atau misalnya lagi kita melihat sebagian besar nilai akademik anak kita jeblok, dan bahkan kita sering menerima surat dari sekolah untuk membicarakan nilai anak kita. Atas dasar itu, kita membuat penghakiman bahwa anak kita sama sekali tidak memiliki kelebihan apa-apa. Padahal, penghakiman demikian sangat bertentangan dengan prinsip memanusiakan manusia dan menumbuhkan pribadi yang dewasa.
Dalam waktu yang tidak lama lagi, putra-putri kita yang kemarin mengikuti UAN SLTA, akan memasuki jenjang kuliah. Biasanya, tidak sedikit yang bingung "Jurusan apa yang pas untuk saya ?". Orangtua pun tak kalah bingungnya, "Jurusan apa yang pas untuk anak saya?". Ini karena antara orangtua dan anak terkadang punya opini yang berbeda dalam melihat jurusan dan prospeknya di dunia kerja. Jadi bagaimana?
Secara umum, dukungan atau bantuan orangtua itu mutlak dibutuhkan. Cuma, sejauhmanakah bantuan itu dibutuhkan, akan sangat mungkin berbeda-beda. Seperti yang dialami oleh Pak Roni dari Banyuwangi. Anak pertamanya yang perempuan sejak lulus SLTA sudah mandiri dan sudah tahu jurusan yang pas untuk dia. Tapi anak keduanya yang laki-laki setiap kali ditanya tentang hal ini, tak ada jawaban yang meyakinkan, sepertinya dia tidak tahu harus kemana.
Kalau mau pakai acuan yang ideal, mestinya anak-anak itu memilih jurusan kuliah berdasarkan tiga pertimbangan di bawah ini:
Cita-cita: panggilan hati, hasrat sejatinya untuk berperan di bidang tertentu, dst
Bakat / Minat: kelebihan alamiah yang dimiliki, baik secara akademik atau non-akademik
Panggilan tanggungjawab: ingin meneruskan perjuangan orangtua, ingin membantu masyarakat tertentu, seperti ingin membantu petani, orang cacat, dst
Meski nampak sederhana, tapi dalam prakteknya tidak semua anak punya pengetahuan yang meyakinkan tentang ketiga hal di atas. Belum tentu anak kita tahu dimana bakat dan minatnya. Belum tentu cita-citanya itu relevan dengan keadaan dirinya dan orangtuanya. Karena itu, bantuan dan dukungan orangtua menjadi penting, entah untuk mengungkap yang belum diketahui atau untuk menegaskan yang sudah ada.
Penilaian Individual
Dasar yang mestinya kita pakai untuk menentukan dukungan adalah keadaan si anak. Anak seperti Riana Helmi, putri Indonesia yang lulus dari fakultas kedokteran UGM dengan usia 17 tahun, mungkin agak kurang pas kalau terlalu di dikte. Bisa-bisa malah melawan atau malah pasif. Untuk mengetahui keadaan anak, kita bisa memakai penilaian individual yang berbasiskan empat pertimbangan di bawah ini:
Jika dia termasuk anak yang pede (percaya diri) dan tahu diri: tahu kelebihannya, tahu cita-citanya, dan tahu kemana dia akan melangkah secara akurat atau berdasarkan bukti-bukti faktual selama ini, maka peranan kita adalah bertanya dan mendukung dari belakang.
Jika dia termasuk anak yang sebenarnya memiliki kelebihan dan cita-cita yang jelas, namun tidak pede atau setengah pede, maka peranan kita adalah membantu untuk menegaskan pilihannya berdasarkan bukti dan penjelasan, entah dari belakang, dari tengah, atau dari depan.
Jika dia termasuk anak yang blank dan sangat menunggu bantuan kita, maka peranan yang pas adalah pendampingan. Kita perlu mengajak dia mendiskusikan banyak hal tentang minat-bakatnya atau cita-citanya. Bahkan kalau perlu sama-sama mencari informasi mengenai fakultas yang pas dari berbagai sumber.
Jika dia termasuk anak yang tidak tahu, tidak mau tahu, dan tidak bergairah dikasih tahu, atau lebih mementingkan ego-nya ketimbang kemaslahatannya, mungkin tidak cukup hanya berbicara soal jurusan. Bisa-bisa butuh penyadaran lebih dulu baru pengarahan. Jika dengan ayahnya diam, bisa ibunya yang maju. Bila tidak mempan dua-duanya, bisa minta bantu orang lain yang dianggap berwibawa, seperti guru, senior, saudara, dst.
Terlepas apapun keadaan anak kita, hendaknya kita tetap mengingat kebutuhan umum perkembangan para remaja. Satu sisi, mereka memang tidak ingin terlalu di dikte seperti kita memperlakukan anak-anak karena mereka ingin menunjukkan siapa dirinya. Tapi di sisi lain, moral dan mental reasoning-nya masih belum sekuat orang yang sudah dewasa. Jadi bisa dibilang, jangan terlalu percaya atau jangan terlalu meragukan.
Penilaian Sosial
Selain bisa melihat dari sisi individualnya, bisa juga kita melihat keadaan anak kita dari sisi sosialnya. Remaja / anak muda itu berbeda dengan orangtuanya. Remaja lebih mengelompok, sementara orangtua lebih individual. Kata Aristotle, yang dominan mengisi pikiran orangtua adalah keluarga dan tempat kerja. Dari kelompok yang dipilihnya itu, kita bisa membuat penilaian sebagai bantuan untuk menentukan dukungan.
Berdasarkan praktek hidup dan hasil laporan studi, misalnya yang ditulis oleh Judith Rich Harris (The Chlid: 1991), kita bisa mengindentifikasi termasuk kelompok remaja yang manakah anak kita itu. Secara umum, remaja dapat dibedakan kelompoknya sebagai berikut:
Kelompok idola: hebat di lapangan atau di pangung, berwibawa dan ganteng atau cantik (the idol crowd)
Kelompok populer: terkenal di mana-mana atau aktif dimana-mana dan terdepan di mana-mana (the populer crowd)
Kelompok pintar: bintang kelas, intelek, elit, eksklusif, dan menerima perhatian khusus dari sekolah (the brain crowd)
Kelompok bengal dan nakal (the lawbreaker crowd)
Kelompok normal atau biasa-biasa (the normal crowd)
Kelompok yang merasa bukan siapa-siapa dan tidak dipandang siapa-siapa (the nobody crowd)
Melihat sisi sosial anak-anak kita terkadang menjadi penting. Penilaian sosial malah seringkali menjadi tujuan bersikap anak-anak / remaja. Yang perlu di perhatikan, jangan sampai anak-anak hanya melihat pilihan yang dianggap baik / keren / mendapat nilai plus dari lingkungan sosial. Oleh karenanya, orang tua sebaiknya mengajak anak melihat pilihan-pilihan lain. Dunia tidak seluas daun kelor. Orang tua bisa bisa membantu anak mengenali minat /bakat/ kelebihannya, untuk menentukan pilihan studi. Bahkan, kesempatan itu bisa juga digunakan untuk menegaskan agenda perubahan, tentu, ke arah yang lebih baik.
Seperti kita alami dulu, pengaruh faktor eksternal masih sangat dominan membentuk perilaku remaja, kecuali bagi yang sudah dibiasakan dari kecil dengan disiplin. Berbagai riset membuktikan, anak yang telah dilatih dengan disiplin secara baik, ternyata memiliki self-esteem yang lebih bagus sehingga dia tidak mudah terpengaruh. Artinya, sejauh kita masih melihat tanda-tanda kerentanan terhadap faktor eksternal yang tidak mendukung, antisipasinya adalah membantu mereka menemukan lingkungan yang mendukung. Kalau tidak, saran Bernard Shaw, ya kita yang harus menciptakannya.
Sudah banyak kasus yang mengungkap perubahan perilaku remaja dari positif ke negatif atau sebaliknya karena pengaruh orang lain dan keadaan (lingkungan). So, dari pengalaman sejumlah orang, setiap orangtua punya peranan penting dalam mengajarkan anak mentransformasikan pengalaman pahit, misalnya putus cinta, bentrok dengan teman, atau gagal, menjadi pelajaran positif.
"Setiap orangtua punya peranan penting dalam mengajarkan anak mentransformasikan pengalaman pahit agar arah perubahannya positif."
Bantuan Menemukan Minat & Bakat
Seperti yang sudah sering kita bahas di sini, setiap orang itu PASTI memiliki bakat, dalam arti berbagai kelebihan personal yang menjadi karakteristik pembeda antara dirinya dan orang lain. Bahwa ada bakat yang disebut bakat normal (success people) dan bakat istimewa (extraordinary people), itu soal lain. Tuhan punya hak veto untuk membedakan manusia dan menyamakannya.
Anak dengan bakat istimewa (giftedness, genius, laduni, dan berbagai istilah lain), umumnya telah memiliki pembimbing di dalam dirinya, yang oleh Jhon Dewey, pakar pendidikan terkenal, disebutnya dengan istilah "internal instructor", panggilan batin yang terus membimbingnya sehingga mereka punya cara belajar, format psikologis, atau prilaku yang lebih unik.
Terus terang, jumlah anak dengan bakat istimewa ini tidak banyak dibanding dengan jumlah populasi penduduk dalam suatu negeri. Sebagian besar manusia memiliki bakat normal atau berbagai kelebihan yang kalau ditemu-kenali dan diasah akan mengantarkannya pada pencapaian prestasi tertentu (success people). Hanya saja, bagi sebagian remaja, menemu-kenali bakatnya sendiri bukan soal mudah.
Itulah kenapa keterlibatan kita menjadi penting. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka menemu-kenali bakat dan minatnya itu? Di bawah ini ada sejumlah petunjuk yang bisa kita pilih sebagiannya:
Melihat hasil tes bakat yang dilakukan oleh lembaga profesional di sekolahnya atau lembaga yang kita tunjuk
Menyimak penilaian, komentar, atau opini orang lain yang terpercaya tentang kelebihannya, katakanlah wali kelasnya, guru privatnya, dll.
Melihatnya dari garis keturunan atau faktor jenetik keluarga
Melihat dari karakteristik individual yang paling mudah muncul ketika si anak berinteraksi dengan orang lain, misalnya cenderung menjad pemimpin, suka menjadi tempat curhat, tempat bertanya pelajaran, dll.
Melihat kegiatan tertentu yang membuat dia tertarik untuk melakukannya secara alami, misalnya menulis, mengajar, dst.
Melihat kegiatan tertentu yang membuat dia cepat mempelajari dan menguasainya
Melihat kegiatan yang langkah-langkahnya muncul secara otomatis dari dalam dirinya, misalnya begitu diajari satu, dia sudah tahu sendiri yang kesepeluh
Melihat kegiatan yang secara tidak disadari dapat dia lakukan dengan baik
Melihat kegiatan yang membuat dia puas bila melakukannya, merasa tidak ada beban, dan senang melakukannya
Melihat hobi, klub, atau lingkungan yang ingin dia masuki
Melihat nilai akademiknya, baik formal atau informal
Melihat kemampuan tehnis tertentu yang bisa dikuasinya dengan cepat dan bagus.
Itu semua adalah sifatnya adalah alat bantu. Seperti kita tahu, jikalau alat bantu itu berhasil kita gunakan dalam mengungkap bakat dan minatnya, bakat sendiri bukan satu-satunya faktor sukses (berprestasi). Sudah banyak anak yang menemukan bakatnya, namun tak bisa digunakan untuk berprestasi, baik di tempat kerja atau di sekolah.
Kalau melihat ke prinsip-prinsip dasarnya, setelah bakat itu ditemukan, manusia membutuhkan petunjuk yang disebut cita-cita atau tujuan hidup. Butuh juga motivasi yang kuat untuk mengasah bakat dan untuk memperjuangkan cita-citanya. Butuh juga relasi atau koneksi yang membimbing atau memberi dukungan. Butuh juga kompetensi atau kemampuan menggunakan pengetahuan, pengalaman dan keahlian dalam sebuah tugas. Butuh juga nilai-nilai yang memperkokoh jiwanya dan lakunya.
VISI-MOTIVASI-KOMPETENSI-RELASI-NILAI
Berhati-hati Membaca Nilai Akademik
Berpatokan pada nilai akademik itu bisa menyesatkan dan bisa pula mencerahkan, tergantung bagaimana kita membacanya. Misalnya anak kita mendapatkan nilai bahasa sangat bagus. Atas dasar itu, kita kemudian membuat judgment bahwa bakat anak kita itu di bahasa.
Akan mencerahkan kalau itu kita baca bahwa bakat anak kita yang sudah terungkap adalah bahasa, sementara yang lain-lain masih belum. Ini akan menghasilkan penilaian yang mendorong, membuka, dan memberdayakan. Siapa tahu dia punya bakat dan minat yang lebih dari itu? Tapi bila itu kita baca secara hitam-putih, biasanya penilaian yang muncul akan sangat cenderung membatasi.
Atau misalnya lagi kita melihat sebagian besar nilai akademik anak kita jeblok, dan bahkan kita sering menerima surat dari sekolah untuk membicarakan nilai anak kita. Atas dasar itu, kita membuat penghakiman bahwa anak kita sama sekali tidak memiliki kelebihan apa-apa. Padahal, penghakiman demikian sangat bertentangan dengan prinsip memanusiakan manusia dan menumbuhkan pribadi yang dewasa.
Menjadi Pendidik Yang Mencerahkan
Mengetahui definsi pendidikan mungkin cukup kita ketahui sekali atau sekali-sekali. Tetapi, menyadari peranan kita sebagai pendidik, butuh kita perbarui setiap kali. Sebab, jika tidak, segera posisi kita bergeser, dari pencipta dalam proses pendidikan menjadi sekedar alat. Ini karena jiwa kita akan sulit mengembangkan proses-proses kreatif atau reflektif dengan hanya mengetahui saja, menjalani saja, atau mengetahui dan menjalani saja. Jiwa kita butuh digunakan untuk menyadari. Kesadaranlah yang mengubah tindakan. Mirip seperti ibadah, katakanlah sholat atau puasa. Mestinya, setiap kali mau melakukannya, butuh kesadaran baru. Sebab kalau tidak, jiwa dan raga kita hanya akan menjadi buruh kewajiban, bukan menjadi kreator proses pencerahan. Karena itu, orang shalat pun masih dibilang celaka bila jiwanya alpa.
Dua Kesadaran Dalam Mendidik
Bila melihat berbagai penjelasan tentang pendidikan, ada sedikitnya dua kesadaran yang perlu kita ciptakan setiap kali mau pergi mengajar. Pertama, kita perlu menyadari pendidik itu mengeluarkan apa yang dari dalam. Ini sesuai dengan arti education sendiri, yaitu e = keluar (out) dan ducare = mengarahkan atau membimbing.
Pada diri setiap siswa itu pasti ada potensi yang tersembunyi. Ibarat tambang emas, emasnya sendiri pasti tertimbun tanah, bebatuan dan pepohonan. Untuk mengeluarkan emas, para penambang punya tradisi membersihkan jalan atau lingkaran tambang lebih dulu, baru kemudian menambang.
Kedua, pendidikan itu menyalakan cahaya. Ibarat energi dalam listrik, energi itu tidak mungkin menghasilkan cahaya dengan hanya dirinya. Untuk menjadi cahaya, perlu ada pembangkit yang mengolah energi dengan menciptakan gesekan, seperti korek api.
Dua kesadaran itulah yang kerapkali menjadi pegangan para tokoh pendidikan yang hasilnya sudah teruji oleh kenyataan. Bagi mereka, ukuran lembaga pendidikan itu bukan wah iklannya, wah administrasinya atau wah kiprahnya di pamerah. Ukurannya adalah, alumninya pada jadi apa di masyarakat?
Kalau alumninya banyak yang bisa mengeluarkan potensi di dalam dirinya dan bisa mengeluarkan cahaya bagi orang lain, berarti lembaga pendidikan atau para pendidiknya di situ OK. Pendidikan di situ berhasil mengejewentahkan esensi pendidikan. Tapi kalau ukurannya baru berapa yang masuk PT negeri, studi ke luar negeri, ranking UAN, dan semisalnya, standarnya dianggap masih rendah. Pengujinya masih berstandarkan tulisan, belum kenyataan. Lebih-lebih kalau menirukan keluhan wong cilik yang sering kita dengar: “Lha wong yang gitu-gitu banyak yang bisa dibayar kok, ngapaian dijadikan kebanggaan?â€ÂÂ
Jangan Menjadi Birokrat Kurikulum
Tanpa pembaruan kesadaran, bisa-bisa praktek kita malah membebani siswa, bukan mencerahkan mereka. Mungkin, karena semakin banyak jumlah pendidik yang prakteknya membebani siswanya, di kalangan pendidik sendiri muncul istilah Birokrat Kurikulum sebagai kritik.
Birokrat Kurikulum (BK) adalah sindirian untuk menyebut pendidik yang cara berpikirnya menganut paham “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?â€ÂÂ, mirip seperti budaya birokrasi kita zaman duluâ€â€Âruwetnya minta ampun tetapi ringkihnya juga minta ampun. BK lebih kerap tampil sebagai sosok yang otaknya ruwet oleh prosedur, metode, dan teknik, sementara visinya, keyakinanya, dan spiritnya miris. BK tidak mau meniru tradisi para penambang yang mendapatkan cara-cara menambang dari alam dengan membersihkan lebih dahulu.
Sebagian pendidik kerap melakukan pengeboran paksa untuk bisa memasukkan materi kurikulum, tanpa berupa membersihkan areal tambang. Padahal, banyak fakta mengungkap bahwa pendidikan di dunia yang lebih banyak berhasil adalah yang menomersatukan pembersihan konsep diri yang kurang atau yang salah, sebelum kurikulum atau buku paket. BK juga kerap menggunakan senjata indoktrinasi sebagai senjata kesayangan, dengan mengingkari fakta kemanusiaan para murid. Mereka dipaksa harus menjadi manusia berinsting malaikat (positifnya) dengan disuruh membuang kejelekannya.
Padahal, hukum cahaya mengatakan bahwa cahaya itu baru keluar setelah ada gesekan plus dan minus dengan cara yang terdidik. Indoktrinasi mempersempit ruang untuk learning, eksperimentasi, dan eksplorasi. Akibatnya apa? Seperti yang sering kita saksikan, pendidikan lebih sering melahirkan orang yang berwacana tentang kenyataan atau melakukan judgment terhadap kenyataan, tetapi kurang mengeluarkan cahaya. Pendidikan lebih pinter menghasilkan para petarung perdebatan ketimbang penggagas dialog, sinergi, dan kebersamaan.
Itulah kenapa pada dinamika lain ada fakta yang membuktikan bahwa orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan cahayanya itu justru diawali dengan keberaniannya menerobos, menentang, atau menafsirkan lain SOP pendidikan melalui berbagai gesekan, internally and externally.
Arah Konsentrasi Guru
Berdasarkan praktek yang sudah kita jalankan sebagai pendidik, sebetulanya ada alat sederhana untuk mengaudit seberapa jauh kita sanggup memerankan fungsi pendidik yang searah dengan esensi pendidikan. Alat sederhana itu kita sebut saja arah konsentrasi. Kemana konsentrasi itu kita arahkan selama ini, akan bisa kita jadikan ukuran apakah selama ini kita hanya pendidik BK atau pendidik yang mendidik. Secara umum, konsentrasi pendidik dapat dikelompokkan seperti berikut ini:
Pertama, ada guru yang sebagian besar konsentrasinya mengarah pada pengembangan dan kepentingan murid atau lembaga pendidikan. Mereka mengembangkan dirinya untuk bisa mengembangkan siswanya. Mereka mendefinisikan muridnya sebagai calon aset pembangunan yang luar biasa, bukan sebagai sebagai pengguna jasa.
Menurut sunnatullahnya, guru seperti inilah yang kerap menghasilkan output yang bagus. Guru seperti ini yang biasanya mampu menghasilkan murid-murid yang jauh lebih pintar dari dirinya. Guru seperti inilah yang murid-muridnya tetap tidak mampu merasa lebih unggul dari gurunya, walau pun sudah sekolah kemana-mana.
Kedua, ada guru yang sebagian konsentrasinya mengarah pada kepentingan dirinya, pangkatnya, kariernya, politiknya, dan seterusnya. Banyak kampus atau sekolah yang murid-muridnya ditinggal oleh dosennya ke kota untuk mengejar beasiswa atau gelar akademik yang lebih tinggi supaya nanti bisa naik pangkat.
Sejauh itu diatur oleh sistem dan komitmen untuk mengembangkan lembaga dan siswa dalam jangka panjangnya, itu sangat bagus. Tapi, kalau hanya untuk kepentingan karier pribadi semata, atau hanya untuk pindah ke tempat yang lebih enak, hubungan kita dengan siswa menjadi hubungan manipulatif.
Ketiga, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk mengurusi pekerjaan sebagai pengajar. Meminjam ungkapannya Edison, guru seperti ini tenggelam dalam kesibukan jabatan, tetapi tidak menyadari apa tujuan dari kesibukannya. Yang penting mengajar, absen beres, honor beres, dan selesai. Jika kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal teknis, tanpa didukung dengan visi dan imajinasi, serta keyakinan, kita akan sulit berkembang dari kenyataan. Kenyataan akan mengubur kita, mirip seperti truk yang berjalan di atas tanah berlumpur. Langkah kita terpendam oleh lumpur kenyataan.
Keempat, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk bisa selamat dari tuntutan sistem yang makin mengikat. Biasanya, ini terjadi di sekolah yang berbiaya tinggi. Tuntutan kepada guru tidak saja datang dari kepala sekolah, tapi juga dari yayasan, wali murid, kepsek, murid, media, dan lain-lain. Bagi guru yang kurang waspada (alert), konsentrasinya bisa salah arah. Konsentrasi yang untuk pengembangan murid, supaya potensinya keluar atau supaya cahayanya keluar, menjadi berkurang. Konsentrasinya terkuras untuk kepentingan orang dewasa yang menjadi stakeholder dan shareholder sekolah.
Semua guru memang harus memikirkan muridnya, dirinya, keluarganya, politiknya, pekerjaannya, atau lembaganya. Tetapi yang kemudian membedakan adalah kesadaran manakah yang paling mendominan. Sejauh bukan didominasi oleh kesadaran untuk meng-educate murid, sepertinya kita telah memilih jalan yang salah. Sebelum kesalahannya jauh, mari kita putar arah.
Merealisasikan Kesadaran
Untuk bisa menjadi pendidik yang mencerahkan, pastinya tidak cukup hanya berhenti di kesadaran. Harus kita lanjutkan pada terbentuknya paradigma dan pendekatan yang lebih mencerahkan terhadap berbagai isu-isu pendidikan yang sehari-hari kita hadapi.
BOX
BERBAGAI ISU YANG BUTUH PARADIGMA
DAN PENDEKATAN BARU YANG MENCERAHKAN DALAM PENDIDIKAN
ISU
PARADIGMA
PENDEKATAN
Sosok Guru
Bukan lagi menjadi sosok yang sangat berwibawa sehingga sulit disentuh, tetapi menjadi partner bagi murid untuk mengungkap potensi dan mengeluarkan cahaya
Terkadang di depan, di belakang, di tengah, bersama, atau juga mengakui perbedaan secara sehat, termasuk ketika berkonfrontasi.
Aktivitas Di Kelas
Bukan lagi menempatkan siswa secara pasif (kerancang kosong), tetapi murid yang sama-sama aktif dalam menggali dan menguasi materi, dengan berbagai konteks-nya
Menggunakan otoritas guru untuk mendorong siswa memanfaatkan kemajuan zaman, saling bertukar kelEbihan, gentle mengakui kekurangan dan keterbatasan
Pandangan terhadap dunia dan lingkungan
Bukan lagi melihat dunia dengan judgment hitam-putih, dengan menonjolkan egonya, tetapi lebih ke arah bagaimana menyikapi kenyataan dengan pola-pola yang mendukung keharmonisan, kemajuan, dan kemaslahatan banyak orang
Menjadi diri sendiri, namun tetap demokratis, terbuka, dan universal, bukan semata tukang mengkhotbahkan demokrasi, keterbukaan, dan keuniversalan, lebih-lebih menjadi dewa agung.
Visi pendidikan
Targetnya bukan semata memaksa murid mendapatkan nilai 10, masuk sekolah internasional, dan semisalnya, tetapi menginspirasi murid untuk membangun imajinasi peranannya di masyarakat melalui motivasi dan nilai
Bukan semata menyuruh murid untuk meniru dirinya, tetapi mengajak murid untuk menuju ke yang lebih baik bersama-sama, kalau perlu mendorong murid untuk lebih besar dari dirinya
Kemampuan Murid
Bukan semata mengikuti pandangan diknas atau masyarakat mengenai anak pintar-bodoh, tetapi melihat semua anak memiliki kemampuan di hal yang berbeda. Standar diknas bukan standar tunggal
Ikut terlibat dalam menggali potensi / kelebihan yang berbeda untuk anak yang berbeda.
Kesalahan Murid
Bukan lagi disikapi untuk dilarang, dihukum, diberi nilai merah, atau dianggap pendosa, lalu titik, tetapi disikapi sebagai proses belajar, termasuk ketika harus di-DO.
Membantu murid menemukan evaluative action melalui proses belajarnya, yang pasti ada salahnya, nyimpangnya, atau melanggarnya sehingga bisa mengeluarkan cahaya
Budaya Belajar
Bukan lagi menciptakan persaingan individual yang saling mengalahkan, diskriminasi anak pintar-bodoh, tetapi persaingan yang memotivasi kompetensi dan prestasi
Memberikan kesempatan yang adil bagi semua murid untuk mengaktualisasikan dirinya, tidak hanya menyayangi anak pintar dan menjauhi mereka yang bodoh versi diknas.
Hubungan
Hubungan dengan siswa, sekolah, dan wali murid bukan semata hubungan industrial, birokratik, atau politis-manipulatis, tetapi hubungan yang saling tolong-menolong dan mengembangkan, berpikir untuk memberi (giving).
Tidak datang hanya untuk mengajar lalu pergi, tetapi sering berdialog, mengajak membangun keakraban profesional yang mendukung kemajuan dan saling mendoakan
Pengembangan
Tidak lagi membatasi diri dengan fakultas di masa kuliah, tanggung jawab yang minimalis, profesional yang sempit, career path yang stagnan, tetapi fokus pada tujuan perjuangan / pengabdian, tanggap terhadap masalah yang relevan, lalu dinamis meresponi perubahan
Menempuh berbagai cara yang sehat untuk mengembangkan diri, dari berbagai aspek, sehingga kiprah bertambah dan nasibnya developing
Jangan Minta Digugu Dan Ditiru
Ketika murid-murid kita saat ini nanti menjadi dewasa, kita mungkin sudah tua atau meninggal dunia. Bayangkan jika misalnya kita meminta mereka untuk menggugu dan meniru kita, apa jadinya? Mereka mungkin menjadi orang yang terbelakang di zamannya karena referensinya kita yang sudah tua. So, jangan meminta digugu dan ditiru.
Ungkapan itu hanya perlu kita pahami sebagai motivasi pribadi untuk terus berusaha menjadi orang yang kredibel dan bisa dipercaya secara komitmen dan moral. Atau, kita terima sebagai penghargaan sosial yang perlu kita hargai. Selebihnya, hubungan kita dengan murid adalah hubungan yang membuka, mendorong, menyalakan, atau mengeluarkan (mencerahkan). Dan yang lebih penting lagi, kita memaafkan masyarakat, pemerintah, dan yayasan yang masih kalah dengan negera Thailand, Philipine, Malaysia, Vietnam, dan Brunei dalam menggaji guru. Sebab, jika tidak memaafkan, jiwa ini akan terbebani dan sangat mungkin kita menjadi pendidik yang membebani. Semoga bermanfaat.
Dua Kesadaran Dalam Mendidik
Bila melihat berbagai penjelasan tentang pendidikan, ada sedikitnya dua kesadaran yang perlu kita ciptakan setiap kali mau pergi mengajar. Pertama, kita perlu menyadari pendidik itu mengeluarkan apa yang dari dalam. Ini sesuai dengan arti education sendiri, yaitu e = keluar (out) dan ducare = mengarahkan atau membimbing.
Pada diri setiap siswa itu pasti ada potensi yang tersembunyi. Ibarat tambang emas, emasnya sendiri pasti tertimbun tanah, bebatuan dan pepohonan. Untuk mengeluarkan emas, para penambang punya tradisi membersihkan jalan atau lingkaran tambang lebih dulu, baru kemudian menambang.
Kedua, pendidikan itu menyalakan cahaya. Ibarat energi dalam listrik, energi itu tidak mungkin menghasilkan cahaya dengan hanya dirinya. Untuk menjadi cahaya, perlu ada pembangkit yang mengolah energi dengan menciptakan gesekan, seperti korek api.
Dua kesadaran itulah yang kerapkali menjadi pegangan para tokoh pendidikan yang hasilnya sudah teruji oleh kenyataan. Bagi mereka, ukuran lembaga pendidikan itu bukan wah iklannya, wah administrasinya atau wah kiprahnya di pamerah. Ukurannya adalah, alumninya pada jadi apa di masyarakat?
Kalau alumninya banyak yang bisa mengeluarkan potensi di dalam dirinya dan bisa mengeluarkan cahaya bagi orang lain, berarti lembaga pendidikan atau para pendidiknya di situ OK. Pendidikan di situ berhasil mengejewentahkan esensi pendidikan. Tapi kalau ukurannya baru berapa yang masuk PT negeri, studi ke luar negeri, ranking UAN, dan semisalnya, standarnya dianggap masih rendah. Pengujinya masih berstandarkan tulisan, belum kenyataan. Lebih-lebih kalau menirukan keluhan wong cilik yang sering kita dengar: “Lha wong yang gitu-gitu banyak yang bisa dibayar kok, ngapaian dijadikan kebanggaan?â€ÂÂ
Jangan Menjadi Birokrat Kurikulum
Tanpa pembaruan kesadaran, bisa-bisa praktek kita malah membebani siswa, bukan mencerahkan mereka. Mungkin, karena semakin banyak jumlah pendidik yang prakteknya membebani siswanya, di kalangan pendidik sendiri muncul istilah Birokrat Kurikulum sebagai kritik.
Birokrat Kurikulum (BK) adalah sindirian untuk menyebut pendidik yang cara berpikirnya menganut paham “Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?â€ÂÂ, mirip seperti budaya birokrasi kita zaman duluâ€â€Âruwetnya minta ampun tetapi ringkihnya juga minta ampun. BK lebih kerap tampil sebagai sosok yang otaknya ruwet oleh prosedur, metode, dan teknik, sementara visinya, keyakinanya, dan spiritnya miris. BK tidak mau meniru tradisi para penambang yang mendapatkan cara-cara menambang dari alam dengan membersihkan lebih dahulu.
Sebagian pendidik kerap melakukan pengeboran paksa untuk bisa memasukkan materi kurikulum, tanpa berupa membersihkan areal tambang. Padahal, banyak fakta mengungkap bahwa pendidikan di dunia yang lebih banyak berhasil adalah yang menomersatukan pembersihan konsep diri yang kurang atau yang salah, sebelum kurikulum atau buku paket. BK juga kerap menggunakan senjata indoktrinasi sebagai senjata kesayangan, dengan mengingkari fakta kemanusiaan para murid. Mereka dipaksa harus menjadi manusia berinsting malaikat (positifnya) dengan disuruh membuang kejelekannya.
Padahal, hukum cahaya mengatakan bahwa cahaya itu baru keluar setelah ada gesekan plus dan minus dengan cara yang terdidik. Indoktrinasi mempersempit ruang untuk learning, eksperimentasi, dan eksplorasi. Akibatnya apa? Seperti yang sering kita saksikan, pendidikan lebih sering melahirkan orang yang berwacana tentang kenyataan atau melakukan judgment terhadap kenyataan, tetapi kurang mengeluarkan cahaya. Pendidikan lebih pinter menghasilkan para petarung perdebatan ketimbang penggagas dialog, sinergi, dan kebersamaan.
Itulah kenapa pada dinamika lain ada fakta yang membuktikan bahwa orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan cahayanya itu justru diawali dengan keberaniannya menerobos, menentang, atau menafsirkan lain SOP pendidikan melalui berbagai gesekan, internally and externally.
Arah Konsentrasi Guru
Berdasarkan praktek yang sudah kita jalankan sebagai pendidik, sebetulanya ada alat sederhana untuk mengaudit seberapa jauh kita sanggup memerankan fungsi pendidik yang searah dengan esensi pendidikan. Alat sederhana itu kita sebut saja arah konsentrasi. Kemana konsentrasi itu kita arahkan selama ini, akan bisa kita jadikan ukuran apakah selama ini kita hanya pendidik BK atau pendidik yang mendidik. Secara umum, konsentrasi pendidik dapat dikelompokkan seperti berikut ini:
Pertama, ada guru yang sebagian besar konsentrasinya mengarah pada pengembangan dan kepentingan murid atau lembaga pendidikan. Mereka mengembangkan dirinya untuk bisa mengembangkan siswanya. Mereka mendefinisikan muridnya sebagai calon aset pembangunan yang luar biasa, bukan sebagai sebagai pengguna jasa.
Menurut sunnatullahnya, guru seperti inilah yang kerap menghasilkan output yang bagus. Guru seperti ini yang biasanya mampu menghasilkan murid-murid yang jauh lebih pintar dari dirinya. Guru seperti inilah yang murid-muridnya tetap tidak mampu merasa lebih unggul dari gurunya, walau pun sudah sekolah kemana-mana.
Kedua, ada guru yang sebagian konsentrasinya mengarah pada kepentingan dirinya, pangkatnya, kariernya, politiknya, dan seterusnya. Banyak kampus atau sekolah yang murid-muridnya ditinggal oleh dosennya ke kota untuk mengejar beasiswa atau gelar akademik yang lebih tinggi supaya nanti bisa naik pangkat.
Sejauh itu diatur oleh sistem dan komitmen untuk mengembangkan lembaga dan siswa dalam jangka panjangnya, itu sangat bagus. Tapi, kalau hanya untuk kepentingan karier pribadi semata, atau hanya untuk pindah ke tempat yang lebih enak, hubungan kita dengan siswa menjadi hubungan manipulatif.
Ketiga, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk mengurusi pekerjaan sebagai pengajar. Meminjam ungkapannya Edison, guru seperti ini tenggelam dalam kesibukan jabatan, tetapi tidak menyadari apa tujuan dari kesibukannya. Yang penting mengajar, absen beres, honor beres, dan selesai. Jika kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal teknis, tanpa didukung dengan visi dan imajinasi, serta keyakinan, kita akan sulit berkembang dari kenyataan. Kenyataan akan mengubur kita, mirip seperti truk yang berjalan di atas tanah berlumpur. Langkah kita terpendam oleh lumpur kenyataan.
Keempat, ada guru yang mengarahkan sebagian besar konsentrasinya untuk bisa selamat dari tuntutan sistem yang makin mengikat. Biasanya, ini terjadi di sekolah yang berbiaya tinggi. Tuntutan kepada guru tidak saja datang dari kepala sekolah, tapi juga dari yayasan, wali murid, kepsek, murid, media, dan lain-lain. Bagi guru yang kurang waspada (alert), konsentrasinya bisa salah arah. Konsentrasi yang untuk pengembangan murid, supaya potensinya keluar atau supaya cahayanya keluar, menjadi berkurang. Konsentrasinya terkuras untuk kepentingan orang dewasa yang menjadi stakeholder dan shareholder sekolah.
Semua guru memang harus memikirkan muridnya, dirinya, keluarganya, politiknya, pekerjaannya, atau lembaganya. Tetapi yang kemudian membedakan adalah kesadaran manakah yang paling mendominan. Sejauh bukan didominasi oleh kesadaran untuk meng-educate murid, sepertinya kita telah memilih jalan yang salah. Sebelum kesalahannya jauh, mari kita putar arah.
Merealisasikan Kesadaran
Untuk bisa menjadi pendidik yang mencerahkan, pastinya tidak cukup hanya berhenti di kesadaran. Harus kita lanjutkan pada terbentuknya paradigma dan pendekatan yang lebih mencerahkan terhadap berbagai isu-isu pendidikan yang sehari-hari kita hadapi.
BOX
BERBAGAI ISU YANG BUTUH PARADIGMA
DAN PENDEKATAN BARU YANG MENCERAHKAN DALAM PENDIDIKAN
ISU
PARADIGMA
PENDEKATAN
Sosok Guru
Bukan lagi menjadi sosok yang sangat berwibawa sehingga sulit disentuh, tetapi menjadi partner bagi murid untuk mengungkap potensi dan mengeluarkan cahaya
Terkadang di depan, di belakang, di tengah, bersama, atau juga mengakui perbedaan secara sehat, termasuk ketika berkonfrontasi.
Aktivitas Di Kelas
Bukan lagi menempatkan siswa secara pasif (kerancang kosong), tetapi murid yang sama-sama aktif dalam menggali dan menguasi materi, dengan berbagai konteks-nya
Menggunakan otoritas guru untuk mendorong siswa memanfaatkan kemajuan zaman, saling bertukar kelEbihan, gentle mengakui kekurangan dan keterbatasan
Pandangan terhadap dunia dan lingkungan
Bukan lagi melihat dunia dengan judgment hitam-putih, dengan menonjolkan egonya, tetapi lebih ke arah bagaimana menyikapi kenyataan dengan pola-pola yang mendukung keharmonisan, kemajuan, dan kemaslahatan banyak orang
Menjadi diri sendiri, namun tetap demokratis, terbuka, dan universal, bukan semata tukang mengkhotbahkan demokrasi, keterbukaan, dan keuniversalan, lebih-lebih menjadi dewa agung.
Visi pendidikan
Targetnya bukan semata memaksa murid mendapatkan nilai 10, masuk sekolah internasional, dan semisalnya, tetapi menginspirasi murid untuk membangun imajinasi peranannya di masyarakat melalui motivasi dan nilai
Bukan semata menyuruh murid untuk meniru dirinya, tetapi mengajak murid untuk menuju ke yang lebih baik bersama-sama, kalau perlu mendorong murid untuk lebih besar dari dirinya
Kemampuan Murid
Bukan semata mengikuti pandangan diknas atau masyarakat mengenai anak pintar-bodoh, tetapi melihat semua anak memiliki kemampuan di hal yang berbeda. Standar diknas bukan standar tunggal
Ikut terlibat dalam menggali potensi / kelebihan yang berbeda untuk anak yang berbeda.
Kesalahan Murid
Bukan lagi disikapi untuk dilarang, dihukum, diberi nilai merah, atau dianggap pendosa, lalu titik, tetapi disikapi sebagai proses belajar, termasuk ketika harus di-DO.
Membantu murid menemukan evaluative action melalui proses belajarnya, yang pasti ada salahnya, nyimpangnya, atau melanggarnya sehingga bisa mengeluarkan cahaya
Budaya Belajar
Bukan lagi menciptakan persaingan individual yang saling mengalahkan, diskriminasi anak pintar-bodoh, tetapi persaingan yang memotivasi kompetensi dan prestasi
Memberikan kesempatan yang adil bagi semua murid untuk mengaktualisasikan dirinya, tidak hanya menyayangi anak pintar dan menjauhi mereka yang bodoh versi diknas.
Hubungan
Hubungan dengan siswa, sekolah, dan wali murid bukan semata hubungan industrial, birokratik, atau politis-manipulatis, tetapi hubungan yang saling tolong-menolong dan mengembangkan, berpikir untuk memberi (giving).
Tidak datang hanya untuk mengajar lalu pergi, tetapi sering berdialog, mengajak membangun keakraban profesional yang mendukung kemajuan dan saling mendoakan
Pengembangan
Tidak lagi membatasi diri dengan fakultas di masa kuliah, tanggung jawab yang minimalis, profesional yang sempit, career path yang stagnan, tetapi fokus pada tujuan perjuangan / pengabdian, tanggap terhadap masalah yang relevan, lalu dinamis meresponi perubahan
Menempuh berbagai cara yang sehat untuk mengembangkan diri, dari berbagai aspek, sehingga kiprah bertambah dan nasibnya developing
Jangan Minta Digugu Dan Ditiru
Ketika murid-murid kita saat ini nanti menjadi dewasa, kita mungkin sudah tua atau meninggal dunia. Bayangkan jika misalnya kita meminta mereka untuk menggugu dan meniru kita, apa jadinya? Mereka mungkin menjadi orang yang terbelakang di zamannya karena referensinya kita yang sudah tua. So, jangan meminta digugu dan ditiru.
Ungkapan itu hanya perlu kita pahami sebagai motivasi pribadi untuk terus berusaha menjadi orang yang kredibel dan bisa dipercaya secara komitmen dan moral. Atau, kita terima sebagai penghargaan sosial yang perlu kita hargai. Selebihnya, hubungan kita dengan murid adalah hubungan yang membuka, mendorong, menyalakan, atau mengeluarkan (mencerahkan). Dan yang lebih penting lagi, kita memaafkan masyarakat, pemerintah, dan yayasan yang masih kalah dengan negera Thailand, Philipine, Malaysia, Vietnam, dan Brunei dalam menggaji guru. Sebab, jika tidak memaafkan, jiwa ini akan terbebani dan sangat mungkin kita menjadi pendidik yang membebani. Semoga bermanfaat.
Gaya Marah dan Dampaknya Pada Kesehatan
Bagaimana gaya marah Anda? Suka memendam emosi, meledak-ledak atau mengalihkan emosi ke hal lain? Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk merespons emosi tersebut. Dan ternyata, cara Anda merespons emosi bisa berdampak pada kesehatan tubuh.
Emosi adalah istilah yang digunakan untuk keadaan mental dan fisiologis yang berhubungan dengan beragam perasaan, pikiran dan perilaku. Setiap manusia memiliki emosi, entah senang dan gembira, marah ataupun sedih. Tidak ada yang salah dengan emosi, masalahnya banyak orang yang sangat berlebihan memaknai dan merespons emosi tersebut.
Ada 3 cara yang biasanya dilakukan orang untuk merespons emosi, yaitu:
1. Menekan atau memendam emosi
Orang yang suka menekan emosi mungkin akan terlihat tenang, namun emosi yang selalu ditekan tersebut suatu saat akan meledak.
Pada dasarnya, orang dengan tipe ini juga akan mudah tersinggung, marah dan merasa tersakiti. Dan tanpa disadarinya, emosi yang terpendam akan tercermin pada sikap yang tidak menyenangkan, sering berkata kasar dan menyakitkan.
“Orang yang menekan emosi lebih banyak diam dan marahnya dipendam, tapi dia suka ngoceh dan suatu saat bisa ‘meledak’. Orang seperti ini jika lama-lama dibiarkan bisa mengalami gangguan jantung, tenggorokan dan kanker,” jelas Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia (EHI) dalam acara Emotional Healing Group Therapy di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Dia juga menyebutkan bahwa kebanyakan orang yang menderita sakit yang tidak tersembuhkan disebabkan karena kemarahan dan kecemasan yang sering ditekan.
2. Melampiaskan emosi
Banyak yang menganggap bahwa orang yang bisa melampiaskan emosi bisa lebih sehat ketimbang yang suka memendamnya. Namun emosi yang dilampiaskan secara berlebihan efeknya hanya sesaat. Emosi yang dikeluarkan dengan spontan marah atau ngamuk masih akan tersimpan dan tidak hilang begitu saja.
“Orang yang melampiaskan emosi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Akibatnya, orang seperti ini sering mengalami gangguan metabolisme dan gangguan fisik,” ujar Muhammad Gunawan, co fasilitator EHI.
3. Mengalihkan emosi pada hal lain
Orang tipe ini biasanya akan mengalihkan emosi dan stres pada hal-hal lain yang dianggap bisa melupakan masalahnya, seperti berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, makan berlebihan, merokok, tidur, kerja berlebihan atau bahkan becanda sepanjang hari.
“Orang yang merokok itu pasti stres dan sebenarnya dia tahu bahwa rokok itu tidak sehat tapi masih menghisapnya,” ujar Gunawan.
Meski bisa melupakan emosi negatif yang tidak menyenangkan, namun Irma menuturkan bahwa mengalihkan emosi bukanlah yang baik untuk mengatasi masalah.
“Ini sama saja Anda sedang memetik daun teh dan menaruh di keranjang belakang punggung. Anda lupa, tapi lama-lama akan semakin berat. Jangan pernah melupakan masalah karena itu artinya Anda tidak menyelesaikannya. Orang yang sering melupakan masalah bukan berarti tidak punya masalah, tapi masalahnya akan menumpuk dan tiba-tiba ‘ambruk’,” ujar Irma.
Cara terbaik merespons emosi
Menurut Irma yang sudah menangani lebih dari 5.000 klien yang bermasalah dengan emosi, cara terbaik untuk merespons emosi khususnya emosi marah adalah dengan mengeluarkannya dengan cara yang baik dan santun atau bicara baik-baik dengan orang yang membuat kita kesal.
“Misal Anda kesal dengan orang A, maka Anda harus menyampaikan pada orang itu bahwa Anda tidak suka dengan tindakan dia, tapi dengan cara yang halus, santun dan bukan marah-marah. Jangan melemparkan emosi kesal Anda pada orang lain, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Jika sekiranya Anda tidak mungkin menyampaikannya, misal dia adalah bos atau orang yang punya jabatan tinggi, maka lakukan sending love. Tetap bersikap baik pada dia sambil mendoakan dia hal-hal yang baik, semoga dia berubah dan berkah, atau berdoa untuk diri sendiri semoga mendapatkan hal-hal baik. Jangan Anda malah mendoakan yang jelek-jelek karena itu akan jadi emosi yang negatif untuk diri Anda sendiri,” tutup Irma.
Emosi adalah istilah yang digunakan untuk keadaan mental dan fisiologis yang berhubungan dengan beragam perasaan, pikiran dan perilaku. Setiap manusia memiliki emosi, entah senang dan gembira, marah ataupun sedih. Tidak ada yang salah dengan emosi, masalahnya banyak orang yang sangat berlebihan memaknai dan merespons emosi tersebut.
Ada 3 cara yang biasanya dilakukan orang untuk merespons emosi, yaitu:
1. Menekan atau memendam emosi
Orang yang suka menekan emosi mungkin akan terlihat tenang, namun emosi yang selalu ditekan tersebut suatu saat akan meledak.
Pada dasarnya, orang dengan tipe ini juga akan mudah tersinggung, marah dan merasa tersakiti. Dan tanpa disadarinya, emosi yang terpendam akan tercermin pada sikap yang tidak menyenangkan, sering berkata kasar dan menyakitkan.
“Orang yang menekan emosi lebih banyak diam dan marahnya dipendam, tapi dia suka ngoceh dan suatu saat bisa ‘meledak’. Orang seperti ini jika lama-lama dibiarkan bisa mengalami gangguan jantung, tenggorokan dan kanker,” jelas Irma Rahayu, Soul Healer dari Emotional Healing Indonesia (EHI) dalam acara Emotional Healing Group Therapy di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Dia juga menyebutkan bahwa kebanyakan orang yang menderita sakit yang tidak tersembuhkan disebabkan karena kemarahan dan kecemasan yang sering ditekan.
2. Melampiaskan emosi
Banyak yang menganggap bahwa orang yang bisa melampiaskan emosi bisa lebih sehat ketimbang yang suka memendamnya. Namun emosi yang dilampiaskan secara berlebihan efeknya hanya sesaat. Emosi yang dikeluarkan dengan spontan marah atau ngamuk masih akan tersimpan dan tidak hilang begitu saja.
“Orang yang melampiaskan emosi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Akibatnya, orang seperti ini sering mengalami gangguan metabolisme dan gangguan fisik,” ujar Muhammad Gunawan, co fasilitator EHI.
3. Mengalihkan emosi pada hal lain
Orang tipe ini biasanya akan mengalihkan emosi dan stres pada hal-hal lain yang dianggap bisa melupakan masalahnya, seperti berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, makan berlebihan, merokok, tidur, kerja berlebihan atau bahkan becanda sepanjang hari.
“Orang yang merokok itu pasti stres dan sebenarnya dia tahu bahwa rokok itu tidak sehat tapi masih menghisapnya,” ujar Gunawan.
Meski bisa melupakan emosi negatif yang tidak menyenangkan, namun Irma menuturkan bahwa mengalihkan emosi bukanlah yang baik untuk mengatasi masalah.
“Ini sama saja Anda sedang memetik daun teh dan menaruh di keranjang belakang punggung. Anda lupa, tapi lama-lama akan semakin berat. Jangan pernah melupakan masalah karena itu artinya Anda tidak menyelesaikannya. Orang yang sering melupakan masalah bukan berarti tidak punya masalah, tapi masalahnya akan menumpuk dan tiba-tiba ‘ambruk’,” ujar Irma.
Cara terbaik merespons emosi
Menurut Irma yang sudah menangani lebih dari 5.000 klien yang bermasalah dengan emosi, cara terbaik untuk merespons emosi khususnya emosi marah adalah dengan mengeluarkannya dengan cara yang baik dan santun atau bicara baik-baik dengan orang yang membuat kita kesal.
“Misal Anda kesal dengan orang A, maka Anda harus menyampaikan pada orang itu bahwa Anda tidak suka dengan tindakan dia, tapi dengan cara yang halus, santun dan bukan marah-marah. Jangan melemparkan emosi kesal Anda pada orang lain, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Jika sekiranya Anda tidak mungkin menyampaikannya, misal dia adalah bos atau orang yang punya jabatan tinggi, maka lakukan sending love. Tetap bersikap baik pada dia sambil mendoakan dia hal-hal yang baik, semoga dia berubah dan berkah, atau berdoa untuk diri sendiri semoga mendapatkan hal-hal baik. Jangan Anda malah mendoakan yang jelek-jelek karena itu akan jadi emosi yang negatif untuk diri Anda sendiri,” tutup Irma.
Fenomena Seks Remaja: Bicarakan Seks Sesama Teman
Para remaja di Indonesia menjadikan teman pergaulan sebagai sumber utama dalam mencari informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Teman pergaulan mengalahkan peran orang tua bahkan film porno sekalipun.
Survei menunjukkan, sebanyak 51 persen remaja berusia 15-25 tahun lebih memilih bertanya kepada teman mengenai seks. Bukan hanya itu, 75 persen dari 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, mengatakan orangtua mereka tidak mengetahui aktivitas seksual yang mereka lakukan. Hanya 26 persen remaja yang mengaku mereka bersikap terbuka pada orangtuanya.
Demikian menurut hasil riset yang dilakukan DKT Indonesia, organisasi internasional yang berfokus pada pencegahan HIV/AIDS dan kontrasepsi. Survei dilakukan pada bulan Mei 2011 di Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.
Menanggapi hasil survei ini, Zoya Amirin, sexual psychologist mengatakan kebanyakan remaja memang malu berdiskusi dengan orangtua mereka mengenai masalah seksual.
“Mereka takut kalau bertanya karena pasti dituduh sudah pernah melakukan atau ingin melakukan hubungan seks,” papar staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini di sela-sela pemaparan hasil survei seks di Jakarta (5/12/2011).
Padahal, menurut Zoya, di usia 15-19 tahun remaja perlu mengetahui pendidikan seksual. “Anak-anak ini harus tahu mengapa mereka merasakan dorongan seksual yang kuat. Di usia ini tanda-tanda seks sekunder juga sudah tampak,” katanya.
Zoya menegaskan, para orangtua sebaiknya membimbing anak-anaknya memahami bahwa seksualitas adalah hal yang normal. “Jangan takut-takuti anak, jelaskan yang nyata dan sebenarnya,” paparnya.
Ia mengungkapkan pelajaran biologi yang didapat anak di sekolah tidak bisa dijadikan andalan pendidikan seksual.
“Dalam mata pelajaran ini hanya diajarkan bagaimana pertemuan sel sperma dan sel telur. Padahal anak perlu informasi lebih dari itu. Orangtua juga wajib mengajari anak-anak mereka untuk berani berkata tidak jika memang tidak ingin berhubungan seks meski dibujuk pacar,” katanya.
Ketidakberdayaan remaja perempuan dalam menolak rayuan pasangannya tergambar dari survei yang menyatakan 6 persen responden merasa dipaksa untuk berhubungan seks.
Survei menunjukkan, sebanyak 51 persen remaja berusia 15-25 tahun lebih memilih bertanya kepada teman mengenai seks. Bukan hanya itu, 75 persen dari 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, mengatakan orangtua mereka tidak mengetahui aktivitas seksual yang mereka lakukan. Hanya 26 persen remaja yang mengaku mereka bersikap terbuka pada orangtuanya.
Demikian menurut hasil riset yang dilakukan DKT Indonesia, organisasi internasional yang berfokus pada pencegahan HIV/AIDS dan kontrasepsi. Survei dilakukan pada bulan Mei 2011 di Jakarta dan sekitarnya, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.
Menanggapi hasil survei ini, Zoya Amirin, sexual psychologist mengatakan kebanyakan remaja memang malu berdiskusi dengan orangtua mereka mengenai masalah seksual.
“Mereka takut kalau bertanya karena pasti dituduh sudah pernah melakukan atau ingin melakukan hubungan seks,” papar staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini di sela-sela pemaparan hasil survei seks di Jakarta (5/12/2011).
Padahal, menurut Zoya, di usia 15-19 tahun remaja perlu mengetahui pendidikan seksual. “Anak-anak ini harus tahu mengapa mereka merasakan dorongan seksual yang kuat. Di usia ini tanda-tanda seks sekunder juga sudah tampak,” katanya.
Zoya menegaskan, para orangtua sebaiknya membimbing anak-anaknya memahami bahwa seksualitas adalah hal yang normal. “Jangan takut-takuti anak, jelaskan yang nyata dan sebenarnya,” paparnya.
Ia mengungkapkan pelajaran biologi yang didapat anak di sekolah tidak bisa dijadikan andalan pendidikan seksual.
“Dalam mata pelajaran ini hanya diajarkan bagaimana pertemuan sel sperma dan sel telur. Padahal anak perlu informasi lebih dari itu. Orangtua juga wajib mengajari anak-anak mereka untuk berani berkata tidak jika memang tidak ingin berhubungan seks meski dibujuk pacar,” katanya.
Ketidakberdayaan remaja perempuan dalam menolak rayuan pasangannya tergambar dari survei yang menyatakan 6 persen responden merasa dipaksa untuk berhubungan seks.
Selasa, 19 April 2011
Ketulusan Cinta
mencintai dan Dicintai adalah aktifitas cinta yang paling utama..
setiap orang ingin dicintai dengan ketulusan dan kesetiaan…, ego akan muncul ketika cinta harus memiliki…
ketika Cinta bertepuk sebelah tangan,…
ketika Cinta menghanyutkan kehidupan…
ketika cinta terhianati dengan perselingkuhan…
Ketika cinta tak lagi membawa kebahagiaan….
ketika cinta masih Harapan….
itulah Cinta yang terselubung ego, kehendak, dan nafsu…. yang berujung penyesalan Cinta….
ketika Cinta Saling Menerima kekurangan dan kelebihan…..
ketika Cinta saling Mengerti…..
Ketika Cinta saling Menyadari….
ketika cinta memberi harapan…
Ketika Cinta saling Menerima…..
Ketika Cinta hadir penuh ketulusan…
Ketika Cinta saling Berbagi suka maupun duka….
itulah Cinta sejati dengan Kasih sayang dan ketulusan…, yang berujung Kebahagiaan Cinta..
Cintailah tanpa menyakiti..,! cinta tak pernah menyakiti…
ego dan kehendak yang menyakiti diri dengan alasan cinta…
sadarilah antara ego dengan Cinta…
Indahnya bercinta pada kondisi dan keadaan yang tepat,…
setiap orang ingin dicintai dengan ketulusan dan kesetiaan…, ego akan muncul ketika cinta harus memiliki…
ketika Cinta bertepuk sebelah tangan,…
ketika Cinta menghanyutkan kehidupan…
ketika cinta terhianati dengan perselingkuhan…
Ketika cinta tak lagi membawa kebahagiaan….
ketika cinta masih Harapan….
itulah Cinta yang terselubung ego, kehendak, dan nafsu…. yang berujung penyesalan Cinta….
ketika Cinta Saling Menerima kekurangan dan kelebihan…..
ketika Cinta saling Mengerti…..
Ketika Cinta saling Menyadari….
ketika cinta memberi harapan…
Ketika Cinta saling Menerima…..
Ketika Cinta hadir penuh ketulusan…
Ketika Cinta saling Berbagi suka maupun duka….
itulah Cinta sejati dengan Kasih sayang dan ketulusan…, yang berujung Kebahagiaan Cinta..
Cintailah tanpa menyakiti..,! cinta tak pernah menyakiti…
ego dan kehendak yang menyakiti diri dengan alasan cinta…
sadarilah antara ego dengan Cinta…
Indahnya bercinta pada kondisi dan keadaan yang tepat,…
Ganguan-ganguan pada ibu hamil
1. Kencing manis
Ibu hamil dicurigai kencing manis jika bertubuh gemuk, berasal dari keluarga dengan riwayat kencing manis, mengeluh sering haus terus, banyak berkemih, dan merasa lapar terus. Ibu hamil dengan kencing manis akan melahirkan anak yang lebih besar dari normal. Seberapa bisa, kencing manis ibu hamil terkontrol agar tidak berpengaruh buruk terhadap anak yang dikandung. Pertolongan khusus perlu diberikan untuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang kencing manis.
2. Ibu hamil dengan infeksi
Ibu hamil dengan demam tinggi dan berlangsung lebih dari 3 hari harus dipikirkan kemungkinan terjadi infeksi. Apa pun penyebab infeksinya, tidak menyehatkan bagi janin yang dikandung. Dokter perlu memeriksa kalau-kalau infeksinya berefek buruk terhadap anak.
3. Kejang-kejang
Ibu hamil dengan kejang-kejang tidak boleh dianggap enteng. Kejang-kejang sendiri bisa disebabkan oleh infeksi selaput otak (meningitis), atau pada otak sendiri (encephalitis). Namun, paling sering disebabkan oleh penyakit eclampsia seperti sudah dibahas di atas. Jangan tunda pergi ke dokter, sebab setiap kejang-kejang harus dianggap keadaan yang serius.
4. Keluar darah dan lendir dari liang rahim
Keluar darah dari liang rahim pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan terjadi keguguran. Ancaman keguguran yang masih awal dapat dibendung dengan perawatan khusus, agar janin selamat sampai cukup bulan. Namun akan gagal mempertahankan kehamilan jika perdarahan telanjur banyak dan berlebihan.
Keluar darah pada kehamilan yang lebih tua, kemungkinan ada gangguan pada air-ari. Keluar darah dapat disertai rasa nyeri mulas melilit di perut bawah, bisa juga tidak. Keluarnya darah dengan rasa nyeri disertai keluarnya lendir, apalagi jika sampai keluar air ketuban (menyerupai air seni), tergolong keadaan gawat darurat kehamilan. Ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit, mencegah seberapa mungkin dalam 24 jam kehamilan masih dapat dipertahankan.
5. Kehamilan terganggu
Jika pada kehamilan muda (6-10 minggu) atau kurang dari dua setengah bulan keluar perdarahan dari liang rahim, disertai nyeri, mulas melilit di perut bawah, selain kemungkinan keguguran, dapat juga sebab kehamilan yang terganggu (KET atau Kehamilan Ektopik Terganggu).
Normalnya, kehamilan tumbuh di dalam rongga rahim. Namun, tidak demikian dengan kehamilan yang tersasar ke tempat tumbuh yang lain. Kehamilan di luar rahim disebut kehamilan ektopik (ectopic pregnancy), yang dapat terjadi di saluran telur, indung telur, atau di mana saja di luar rahim. Kehamilan di luar rahim dapat saja selamat sampai kehamilan cukup bulan, namun lebih sering mengalami gangguan. Jika kehamilan yang tersasar sampai terganggu, terpaksa anak harus dikeluarkan kendati belum cukup bulan.
6. Keluar darah setelah kehamilan 28 minggu
Jika keluar darah setelah kehamilan 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan ada gangguan pada ari-ari. Kalau bukan luruhnya ari-ari dari perlekatannya pada dinding rahim (solutio placentae), kemungkinan lain adalah mengelupasnya sebagian tepi ari-ari dari dinding rahim lantaran lokasi perlekatannya berada di sekitar mulut rahim (placentae praevia). Keduanya tergolong gawat darurat yang memerlukan pertolongan rumah sakit segera.
7. Keluar cairan ketuban
Ketuban atau bungkus bayi dalam kandungan tidak boleh pecah sebelum tiba waktunya persalinan. Jika sampai pecah, berarti cairan ketuban akan tumpah keluar dari liang rahim, dan anak yang seharusnya terlindung steril di dalamnya terancam bahaya tercemar oleh bibit penyakit dari dunia luar. Keadaan ini disebut Ketuban Pecah Dini (KPD), yakni keluar cairan menyerupai air seni tapi tak berbau pesing, sebelum merasa mulas-mulas tanda awal persalinan.
Adakalanya, cairan ketuban tidak bening lagi, melainkan sudah kehijau-hijauan, tanda sudah terinfeksi kuman dari luar. Infeksi cairan ketuban mengancam janin yang terbungkus di dalamnya. Ini pun tergolong gawat darurat. Janin perlu diselamatkan agar tidak sampai menderita infeksi di dalam kandungan ibunya.
Ibu hamil dicurigai kencing manis jika bertubuh gemuk, berasal dari keluarga dengan riwayat kencing manis, mengeluh sering haus terus, banyak berkemih, dan merasa lapar terus. Ibu hamil dengan kencing manis akan melahirkan anak yang lebih besar dari normal. Seberapa bisa, kencing manis ibu hamil terkontrol agar tidak berpengaruh buruk terhadap anak yang dikandung. Pertolongan khusus perlu diberikan untuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang kencing manis.
2. Ibu hamil dengan infeksi
Ibu hamil dengan demam tinggi dan berlangsung lebih dari 3 hari harus dipikirkan kemungkinan terjadi infeksi. Apa pun penyebab infeksinya, tidak menyehatkan bagi janin yang dikandung. Dokter perlu memeriksa kalau-kalau infeksinya berefek buruk terhadap anak.
3. Kejang-kejang
Ibu hamil dengan kejang-kejang tidak boleh dianggap enteng. Kejang-kejang sendiri bisa disebabkan oleh infeksi selaput otak (meningitis), atau pada otak sendiri (encephalitis). Namun, paling sering disebabkan oleh penyakit eclampsia seperti sudah dibahas di atas. Jangan tunda pergi ke dokter, sebab setiap kejang-kejang harus dianggap keadaan yang serius.
4. Keluar darah dan lendir dari liang rahim
Keluar darah dari liang rahim pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan terjadi keguguran. Ancaman keguguran yang masih awal dapat dibendung dengan perawatan khusus, agar janin selamat sampai cukup bulan. Namun akan gagal mempertahankan kehamilan jika perdarahan telanjur banyak dan berlebihan.
Keluar darah pada kehamilan yang lebih tua, kemungkinan ada gangguan pada air-ari. Keluar darah dapat disertai rasa nyeri mulas melilit di perut bawah, bisa juga tidak. Keluarnya darah dengan rasa nyeri disertai keluarnya lendir, apalagi jika sampai keluar air ketuban (menyerupai air seni), tergolong keadaan gawat darurat kehamilan. Ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit, mencegah seberapa mungkin dalam 24 jam kehamilan masih dapat dipertahankan.
5. Kehamilan terganggu
Jika pada kehamilan muda (6-10 minggu) atau kurang dari dua setengah bulan keluar perdarahan dari liang rahim, disertai nyeri, mulas melilit di perut bawah, selain kemungkinan keguguran, dapat juga sebab kehamilan yang terganggu (KET atau Kehamilan Ektopik Terganggu).
Normalnya, kehamilan tumbuh di dalam rongga rahim. Namun, tidak demikian dengan kehamilan yang tersasar ke tempat tumbuh yang lain. Kehamilan di luar rahim disebut kehamilan ektopik (ectopic pregnancy), yang dapat terjadi di saluran telur, indung telur, atau di mana saja di luar rahim. Kehamilan di luar rahim dapat saja selamat sampai kehamilan cukup bulan, namun lebih sering mengalami gangguan. Jika kehamilan yang tersasar sampai terganggu, terpaksa anak harus dikeluarkan kendati belum cukup bulan.
6. Keluar darah setelah kehamilan 28 minggu
Jika keluar darah setelah kehamilan 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan ada gangguan pada ari-ari. Kalau bukan luruhnya ari-ari dari perlekatannya pada dinding rahim (solutio placentae), kemungkinan lain adalah mengelupasnya sebagian tepi ari-ari dari dinding rahim lantaran lokasi perlekatannya berada di sekitar mulut rahim (placentae praevia). Keduanya tergolong gawat darurat yang memerlukan pertolongan rumah sakit segera.
7. Keluar cairan ketuban
Ketuban atau bungkus bayi dalam kandungan tidak boleh pecah sebelum tiba waktunya persalinan. Jika sampai pecah, berarti cairan ketuban akan tumpah keluar dari liang rahim, dan anak yang seharusnya terlindung steril di dalamnya terancam bahaya tercemar oleh bibit penyakit dari dunia luar. Keadaan ini disebut Ketuban Pecah Dini (KPD), yakni keluar cairan menyerupai air seni tapi tak berbau pesing, sebelum merasa mulas-mulas tanda awal persalinan.
Adakalanya, cairan ketuban tidak bening lagi, melainkan sudah kehijau-hijauan, tanda sudah terinfeksi kuman dari luar. Infeksi cairan ketuban mengancam janin yang terbungkus di dalamnya. Ini pun tergolong gawat darurat. Janin perlu diselamatkan agar tidak sampai menderita infeksi di dalam kandungan ibunya.
Jumat, 14 Januari 2011
Partograf,.......
Partograf, ini sebuah bentuk form yang harus di isi selama persalinan berlangsung dan memiliki arti :
“Merupakan informasi klinik tentang kemajuan persalinan, asuhan, pengenalan penyulit dan membuat keputusan klinik”.
Beberapa yang harus diperhatikan didalam pencatatan dan obeservasi
a. Inpartu
b. Inisiasi dan lamanya persalinan
c. Perjalanan proses persalinan
d. Kondisi ibu dan janin
e. Asuhan dan asupan
f. Dugaan adanya penyulit
g. Diagnosis dan piñatalaksanaan
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah bahwa tujuan dilakukannnya Partograf adalah untuk membantu semua ibu didalam kala I persalinan, baik yang kemajuan persalinannya berjalan normal maupun abnormal.Sehingga menjadi sebuah bentuk informasi serta sebuah catatan laporan bagi ibu yang melahirkan.
Beberapa bentuk data didalam Partograf
o Informasi tentang ibu dan riwayat kehamilan/persalinan
o Kondisi janin
o Kemajuan persalinan
o Jam dan waktu
o Kontraksi uterus
o Obat – obatan dan cairan yang diberikan
o Kondisi ibu
o Asuhan, tatalaksana dan keputusan klinik
Catatan tentang air ketuban, hal ini harus tetap dan wajib peserta ketahui dan pahami didalam melakukan proses persalinan.Yakni :
o U : selaput ketuban Utuh
o J : selaput sudah pecah, cairan jernih
o M : selaput pecah, cairan dengan mekonium
o D : selaput pecah, cairan dengan darah
o K : selaput pecah, cairan tidak ada (kering)
Seorang dokter wajib mengisi patograf didalam menjalankan tugas sehingga Patograf ini tidak hanya ditujukan atau bentuk tanggung jawab pada ibu bidan saja. Selain itu lebih membantu sebagai bentuk catatan perkembangan persalinan pada semua ibu, sehingga dijadikan sebagai salah satu bentuk usaha membantu keselamatan pada ibu dan anak. Menjadi sebuah kesimpulan bahwa setiap bidan harus memiliki serta membuat Partograf ini baik di dalam klinik dan Puskesmas. Selain itu baik didalam awal melakukan pengisian Partograf diharapkan garis Partograf dimulai dengan dari garis waspada. Karena hal ini wajib untuk dilakukan diawal persalinan dan bukan di isi setelah persalinan.
Namun aku merasa sedikit kecewa sejenak karena beberapa dari peserta dijumpai ada yang masih melakukan kesalahan didalam menerapkannya. Bayangkan saja semua langkah tersebut ada 58 langkah hingga sampai kala I, II, III dan IV. Dimana disetiap tahapan tersebut tidak boleh dilupakan dan di lompati setiap urutannya. Karena dapat mengakibatkan sebuah hal yang fatal bagi keselamatan dan kesehatan bagi si ibu dan anak. Baik dari segi persiapan alat – alat yang digunakan dan harus diwajibkan didalam kondisi yang benar – benar bersih dan steril. Perlengkapan bidan seperti penutup kepala, celemek, sarung tangan karet, kacamata dan kebersihan tangan sebelum melakukan. Coba bayangkan, untuk kebersihan tangannya saja tidak boleh sembarangan karena cara membersihkan tangannya sebanyak 7 tahapan dengan gerakan yang berbeda sehingga setiap celah dan sudut hingga kuku bidan benar – benar didalam kondisi yang bersih dan steril. Setelah itu baru diperbolehkan untuk memimpin sebuah persalinan, kalau tidak bidan sudah menyalahi sebuah prosedur yang sudah ditetapkan. Karena pelatihan ini benar – benar sangat disiplin dan dipimpin langsung oleh petugas kesehatan dari Rumah Sakit Umum Cut yak Dhien Meulaboh.
Pemateri memberikan beberapa cara mencuci tangan secara efektif, yakni :
1. Menyapu tangan dengan menggunakan sabun sehat pada telapak tangan kanan dan kiri. (Kegiatan ini terus menerus dilakuakn secara berulang – ulang)
2. Menyapu pungggung tangan kanan di sapu dengan menggunakan telapak tangan kiri begitu pula dengan punggung tapak tangan kiri yang disapu dengan menggunakan telapak tangan kanan. (kegiatan ini diulang secara bergantian)
3. Telapak tangan kanan & kiri khusus sela – sela jari
4. Punggung jari dari tangan berlawanan (kiri dan kanan bergantian)
5. Putar ibu jari dalam telapak tangan yang berlawanan
6. Gosok ujung jari ditelapak tangan yang berlawanan, kanan dan kiri bergantian
sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/05/21/aceh-barat-melakukan-training-refresher-asuhan-persalinan-normal-apn/
“Merupakan informasi klinik tentang kemajuan persalinan, asuhan, pengenalan penyulit dan membuat keputusan klinik”.
Beberapa yang harus diperhatikan didalam pencatatan dan obeservasi
a. Inpartu
b. Inisiasi dan lamanya persalinan
c. Perjalanan proses persalinan
d. Kondisi ibu dan janin
e. Asuhan dan asupan
f. Dugaan adanya penyulit
g. Diagnosis dan piñatalaksanaan
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah bahwa tujuan dilakukannnya Partograf adalah untuk membantu semua ibu didalam kala I persalinan, baik yang kemajuan persalinannya berjalan normal maupun abnormal.Sehingga menjadi sebuah bentuk informasi serta sebuah catatan laporan bagi ibu yang melahirkan.
Beberapa bentuk data didalam Partograf
o Informasi tentang ibu dan riwayat kehamilan/persalinan
o Kondisi janin
o Kemajuan persalinan
o Jam dan waktu
o Kontraksi uterus
o Obat – obatan dan cairan yang diberikan
o Kondisi ibu
o Asuhan, tatalaksana dan keputusan klinik
Catatan tentang air ketuban, hal ini harus tetap dan wajib peserta ketahui dan pahami didalam melakukan proses persalinan.Yakni :
o U : selaput ketuban Utuh
o J : selaput sudah pecah, cairan jernih
o M : selaput pecah, cairan dengan mekonium
o D : selaput pecah, cairan dengan darah
o K : selaput pecah, cairan tidak ada (kering)
Seorang dokter wajib mengisi patograf didalam menjalankan tugas sehingga Patograf ini tidak hanya ditujukan atau bentuk tanggung jawab pada ibu bidan saja. Selain itu lebih membantu sebagai bentuk catatan perkembangan persalinan pada semua ibu, sehingga dijadikan sebagai salah satu bentuk usaha membantu keselamatan pada ibu dan anak. Menjadi sebuah kesimpulan bahwa setiap bidan harus memiliki serta membuat Partograf ini baik di dalam klinik dan Puskesmas. Selain itu baik didalam awal melakukan pengisian Partograf diharapkan garis Partograf dimulai dengan dari garis waspada. Karena hal ini wajib untuk dilakukan diawal persalinan dan bukan di isi setelah persalinan.
Namun aku merasa sedikit kecewa sejenak karena beberapa dari peserta dijumpai ada yang masih melakukan kesalahan didalam menerapkannya. Bayangkan saja semua langkah tersebut ada 58 langkah hingga sampai kala I, II, III dan IV. Dimana disetiap tahapan tersebut tidak boleh dilupakan dan di lompati setiap urutannya. Karena dapat mengakibatkan sebuah hal yang fatal bagi keselamatan dan kesehatan bagi si ibu dan anak. Baik dari segi persiapan alat – alat yang digunakan dan harus diwajibkan didalam kondisi yang benar – benar bersih dan steril. Perlengkapan bidan seperti penutup kepala, celemek, sarung tangan karet, kacamata dan kebersihan tangan sebelum melakukan. Coba bayangkan, untuk kebersihan tangannya saja tidak boleh sembarangan karena cara membersihkan tangannya sebanyak 7 tahapan dengan gerakan yang berbeda sehingga setiap celah dan sudut hingga kuku bidan benar – benar didalam kondisi yang bersih dan steril. Setelah itu baru diperbolehkan untuk memimpin sebuah persalinan, kalau tidak bidan sudah menyalahi sebuah prosedur yang sudah ditetapkan. Karena pelatihan ini benar – benar sangat disiplin dan dipimpin langsung oleh petugas kesehatan dari Rumah Sakit Umum Cut yak Dhien Meulaboh.
Pemateri memberikan beberapa cara mencuci tangan secara efektif, yakni :
1. Menyapu tangan dengan menggunakan sabun sehat pada telapak tangan kanan dan kiri. (Kegiatan ini terus menerus dilakuakn secara berulang – ulang)
2. Menyapu pungggung tangan kanan di sapu dengan menggunakan telapak tangan kiri begitu pula dengan punggung tapak tangan kiri yang disapu dengan menggunakan telapak tangan kanan. (kegiatan ini diulang secara bergantian)
3. Telapak tangan kanan & kiri khusus sela – sela jari
4. Punggung jari dari tangan berlawanan (kiri dan kanan bergantian)
5. Putar ibu jari dalam telapak tangan yang berlawanan
6. Gosok ujung jari ditelapak tangan yang berlawanan, kanan dan kiri bergantian
sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/05/21/aceh-barat-melakukan-training-refresher-asuhan-persalinan-normal-apn/
Senin, 20 Desember 2010
Penegakan Hukum (Patettong Bicara)
Bagi manusia Bugis, menegakkan hukum terhadap suatu pelanggaran merupakan kewajiban. Dalam konsep Siri' (malu, harga diri) terungkap bahwa manusia Bugis yang berbuat semaunya dan tidak lagi mempedulikan aturan-aturan adat (etika panngadereng atau peradaban) dianggap sebagai manusia yang tidak mempunyai harga diri. Siri' atau harga diri merupakan landasan bagi "pemimpin" untuk senantiasa menegakkan hukum tanpa pilih kasih. Pemimpin yang tidak mampu menegakkan hukum dianggap pemimpin lembek atau banci. Seseorang yang tidak mempunyai Siri' diumpamakan sebagai bangkai yang berjalan. Dalam ungkapan Bugis disebutkan: Siri' emmi to riaseng tau (Hanya karena Siri'-lah kita dinamakan manusia). Itulah sebabnya mengapa para orang tua Bugis menjadikan Siri' sebagai hal yang amat penting dalam nasihat-nasihat, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Said sebagai berikut.
Taro-taroi alemu siri'
Narekko de' siri'mu inrekko siri'
(Perlengkapilah dirimu dengan siri', Kalau tidak ada siri'-mu, pinjamlah siri'.)
Dalam dunia realitas, sering dijumpai seorang manusia Bugis mengorbankan sanak keluarga yang paling dicintainya demi mempertahankan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat. Dalam sejarah disebutkan bahwa di Sidenreng Rappang pada abad XVI, La Pagala Nene Mallomo, seorang hakim (pabbicara), dan murid dari La Taddampare, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil luku orang lain tanpa seizin dengan pemiliknya. Tentu saja kejadian itu telah mencoreng muka ayahnya sendiri yang dikenal sebagai hakim yang jujur. Ketika ditanya mengapa ia memidana mati putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan jiwa seorang manusia, beliau menjawab:
"Ade'e temmakeana' temmakke eppo"
"Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu."
Pidana mati itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan harga dirinya sebagai hakim yang jujur di tengah-tengah masyarakatnya. Sekiranya ia memberikan pengampunan kepada putranya sendiri, tentulah ia akan menanggung malu yang sangat dalam karena akan dicibir oleh masyarakat sekitarnya, dan wibawanya sebagai hakim yang jujur akan hilang seketika. Bagi masyarakat Bugis, falsafah "taro ada taro gau" (satunya kata dengan perbuatan) adalah suatu keharusan. Manusia yang tidak bisa menyerasikan antara perkataan dan perbuatannya akan mendapat gelar sebagai manusia "munafik" (munape), suatu gelar yang sangat dihindari oleh
manusia Bugis.
Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat manusia Bugis berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat atau panngadereng tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan panngadereng masyarakat Bugis. Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis: "Ade'temmakiana', temmakieppo" (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).
Data tentang bagaimana adat diperlakukan kepada semua kelompok masyarakat, berikut beberapa data historis yang dicatat oleh Abidin sebagai berikut.
1. Pada waktu Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang-orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki sebab-sebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang melakukan perbuatan sewenang- wenang. Setelah beliau merenung, beliau mengingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang penduduk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menurutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan diri bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan
sesuatu.
2. Ketika La Pabbelle' putra Arung Matoa Wajo yang X La Pakoko Topabbele' memperkosa wanita di kampung Totinco, ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri.
3. Raja Bone yang bernama La Ica' dibunuh oleh orang-orang Bone karena kekejamannya.
4. Raja Bone yang bernama La Ulio "Bote'" (Sigendut) meninggal diamuk di kampung Utterung, karena dianggap berbuat sewenang-wenang kepada rakyat.
5. Ketika Toangkone Ranreng Bettempola pada abad XV dibuktikan menculik wanita yang bernama We Neba untuk diserahkan kepada temannya Opu Rajeng dari Luwu, maka ia dijatuhi pidana dipecat dengan tidak hormat lalu diusir untuk seumur hidup.
6. La Temmasonge putra raja Bone La Patau Matanna Tikka pada tahun 1710 dipidana "ripaoppangi tana" (diusir keluar Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota dewan pemangku adat Bone. Raja Luwu menyingkirkan putrinya (yang terserang penyakit kulit yang menular) dari istana karena atas permintaan rakyat.
Taro-taroi alemu siri'
Narekko de' siri'mu inrekko siri'
(Perlengkapilah dirimu dengan siri', Kalau tidak ada siri'-mu, pinjamlah siri'.)
Dalam dunia realitas, sering dijumpai seorang manusia Bugis mengorbankan sanak keluarga yang paling dicintainya demi mempertahankan harga diri dan martabatnya di tengah masyarakat. Dalam sejarah disebutkan bahwa di Sidenreng Rappang pada abad XVI, La Pagala Nene Mallomo, seorang hakim (pabbicara), dan murid dari La Taddampare, menjatuhkan pidana mati terhadap putranya sendiri yang amat dicintainya karena telah terbukti mengambil luku orang lain tanpa seizin dengan pemiliknya. Tentu saja kejadian itu telah mencoreng muka ayahnya sendiri yang dikenal sebagai hakim yang jujur. Ketika ditanya mengapa ia memidana mati putranya sendiri dan apakah dia menilai sepotong kayu sama dengan jiwa seorang manusia, beliau menjawab:
"Ade'e temmakeana' temmakke eppo"
"Hukum tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu."
Pidana mati itu dilakukan semata-mata untuk mempertahankan harga dirinya sebagai hakim yang jujur di tengah-tengah masyarakatnya. Sekiranya ia memberikan pengampunan kepada putranya sendiri, tentulah ia akan menanggung malu yang sangat dalam karena akan dicibir oleh masyarakat sekitarnya, dan wibawanya sebagai hakim yang jujur akan hilang seketika. Bagi masyarakat Bugis, falsafah "taro ada taro gau" (satunya kata dengan perbuatan) adalah suatu keharusan. Manusia yang tidak bisa menyerasikan antara perkataan dan perbuatannya akan mendapat gelar sebagai manusia "munafik" (munape), suatu gelar yang sangat dihindari oleh
manusia Bugis.
Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat manusia Bugis berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat atau panngadereng tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan panngadereng masyarakat Bugis. Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis: "Ade'temmakiana', temmakieppo" (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).
Data tentang bagaimana adat diperlakukan kepada semua kelompok masyarakat, berikut beberapa data historis yang dicatat oleh Abidin sebagai berikut.
1. Pada waktu Lamanussa Toakkarangeng menjadi Datu Soppeng, orang-orang Soppeng pernah hampir kelaparan karena kemarau panjang. Beliau menyelidiki sebab-sebab bencana kelaparan itu, tetapi tak ada seorang pejabat kerajaan pun yang melakukan perbuatan sewenang- wenang. Setelah beliau merenung, beliau mengingat bahwa beliau pernah memungut suatu barang di sawah seorang penduduk dan disimpannya di rumahnya sendiri. Perbuatan beliau inilah yang menurutnya menyebabkan mala petaka itu, pikir beliau. Beliau mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman kepada dirinya sendiri karena tidak ada orang pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada diri sang Datu. Hukuman yang dijatuhkan kepada dirinya sendiri adalah berupa denda, yaitu beliau memotong kerbau dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Di hadapan rakyatnya, beliau menyatakan diri bersalah karena telah memungut suatu barang dari sawah seseorang dan menyimpannya sendiri. Beliau mengumumkan barang tersebut di tengah pesta tudang sipulung (duduk bersama), tetapi tak seorang pun yang mengaku telah kehilangan
sesuatu.
2. Ketika La Pabbelle' putra Arung Matoa Wajo yang X La Pakoko Topabbele' memperkosa wanita di kampung Totinco, ia dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri.
3. Raja Bone yang bernama La Ica' dibunuh oleh orang-orang Bone karena kekejamannya.
4. Raja Bone yang bernama La Ulio "Bote'" (Sigendut) meninggal diamuk di kampung Utterung, karena dianggap berbuat sewenang-wenang kepada rakyat.
5. Ketika Toangkone Ranreng Bettempola pada abad XV dibuktikan menculik wanita yang bernama We Neba untuk diserahkan kepada temannya Opu Rajeng dari Luwu, maka ia dijatuhi pidana dipecat dengan tidak hormat lalu diusir untuk seumur hidup.
6. La Temmasonge putra raja Bone La Patau Matanna Tikka pada tahun 1710 dipidana "ripaoppangi tana" (diusir keluar Bone dan dibuang ke Buton) karena membunuh Arung Tiboyong, seorang anggota dewan pemangku adat Bone. Raja Luwu menyingkirkan putrinya (yang terserang penyakit kulit yang menular) dari istana karena atas permintaan rakyat.
Kamis, 16 Desember 2010
KONSEP DASAR ASUHAN KEHAMILAN
Setiap kehamilan merupakan proses alamiah, bila tidak dikelola dengan baik akan memberikan komplikasi pada ibu dan janin dalam keadaan sehat dan aman.
Filosofi adalah pernyataan mengenai keyakinan dan nilai/value yang dimiliki yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang/kelompok. Filosofi asuhan kehamilan menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien selama masa kehamilan.
FILOSOFI ASUHAN KEHAMILAN
Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan itu.
1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis, bukan patologis. Oleh karenanya, asuhan yang diberikan pun adalah asuhan yang meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi proses alamiah dari kehamilan dan menghindari tindakan-tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti manfaatnya.
2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (continuity of care) Sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan pelayanan dari seorang profesional yang sama atau dari satu team kecil tenaga profesional, sebab dengan begitu maka perkembangan kondisi mereka setiap saat akan terpantau dengan baik selain juga mereka menjadi lebih percaya dan terbuka karena merasa sudah mengenal si pemberi asuhan .
3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga (family centered)
Wanita (ibu) menjadi pusat asuhan kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang diberikan harus berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya tidak hanya melibatkan ibu hamil saja melainkan juga keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab keluarga menjadi bagian integral/tak terpisahkan dari ibu hamil. Sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi oleh keluarga. Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Selain itu, keluarga juga merupakan unit sosial yang terdekat dan dapat memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya. Dalam hal pengambilan keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama antara ibu, keluarganya, dan bidan, dengan ibu sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. Ibu mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan kepada siapa dan dimana ia akan memperoleh pelayanan kebidanannya.
4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untuk berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/pengalaman yang berhubungan dengan kehamilannya. Tenaga profesional kesehatan tidak mungkin terus menerus mendampingi dan merawat ibu hamil, karenanya ibu hamil perlu mendapat informasi dan pengalaman agar dapat merawat diri sendiri secara benar. Perempuan harus diberdayakan untuk mampu mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui tindakan KIE dan konseling yang dilakukan bidan.
Seorang bidan harus memahami bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang alamiah dan fisiologis, walau tidak dipungkiri dalam beberapa kasus mungkin terjadi komplikasi sejak awal karena kondisi tertentu/ komplikasi tersebut terjadi kemudian. Proses kelahiran meliputi kejadian fisik, psikososial dan kultural.
Kehamilan merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi perempuan, keluarga dan masyarakat. Perilaku ibu selama masa kehamilannya akan mempengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang dilahirkan. Bidan harus mempertahankan kesehatan ibu dan janin serta mencegah komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan sebagai satu kesatuan yang utuh.
TUJUAN ANTENATAL CARE
a. Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan/komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan bayi dengan trauma seminimal mungkin
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Ekslusif
f. Peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin (280 hari/ 40 mg) atau 9 bulan 7 hari. Periode dalam kehamilan terbagi dalam 3 triwulan/trimester :
1. Trimester I awal kehamilan sampai 14 mg
2. Trimester II kehamilan 14 mg – 28 mg
3. Trimester III kehamilan 28 mg – 36 mg/ 40 mg
SEJARAH ASUHAN KEHAMILAN
Dimasa yang lalu, bidan dan dokter banyak menggunakan waktu selama kunjungan antenatal untuk penilaian resiko berdasarkan riwayat medis dan obstetri serta temuan-temuan fisik yang lalu. Tujuan dari penilaian resiko ini adalah untuk mengidentifikasi ibu yang beresiko tinggi dan merujuk ibu-ibu ini untuk mendapatkan asuhan yang khusus. Sekarang kita telah mengetahui bahwa penilaian resiko tidak mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal. Penilaian resiko juga tidak menjamin perkiraan, ibu yang mana yang akan mempunyai masalah selama persalinan. Mengapa penilaian resiko tidak lagi digunakan? Ia tidak lagi dipergunakan karena setiap ibu hamil akan menghadapi resiko komplikasi dan harus mempunyai jangkauan kepada asuhan kesehatan maternal yang berkualitas. Hampir tidak mungkin memperkirakan ibu hamil yang mana yang akan menghadapi komplikasi yang akan mengancam keselamatan jiwa secara akurat. Banyak ibu-ibu yang digolongkan ”beresiko tinggi” yang tidak mengalami komplikasi apapun. Misalnya seorang ibu yang tingginya kurang dari 139 cm mungkin akan melahirkan bayi seberat 2500 gram tanpa masalah. Demikian juga, seorang ibu yang mempunyai riwayat tidak begitu berarti, kehamilan normal dan persalinan yang tidak berkomplikasi mungkin saja mengalami perdarahan pasca persalinan.
Dalam suatu studi di Zaire, dengan menggunakan berbgai macam metode, formula dan skala untuk melakukan penapisan ”resiko” diteliti. Studi ini menemukan bahwa 71 % ibu yang mengalami partus macet tidak digolongkan ke dalam kelompok beresiko sebelumnya. Sebagai tambahan, 90 % ibu-ibu yang diidentifikasi ”beresiko” tidak mengalami komplikasi. Kebanyakan ibu-ibu yang mengalami komplikasi tidak mempunyai faktor resiko dan digolongkan ke dalam kelompok ”beresiko rendah”. Suatu contoh seorang ibu yang beresiko rendah adalah berumur 24 tahun, G2 P1 tanpa faktor resiko dan persalinan normal yang melahirkan bayi 3 kg dan mengalami perdarahan 1000 cc karena atonia uteri.
LINGKUP ASUHAN KEHAMILAN Ruang lingkup asuhan kehamilan meliputi
1. Konsepsi :
Bersatunya ovum dan sperma yang didahului oleh ovulasi dan inseminasi
2. Ovulasi :
Runtuhnya ovum dari folikel dalam ovarium bila ovum gagal bertemu dalam waktu 2 x 24 jam → mati/hancur
3. Inseminasi :
Keluarnya sperma dari urethra pria kedalam vagina wanita. Sperma bergerak melalui uterus → tuba fallopi dengan kecepatan 1 kaki/jam. Alat gerak sperma → Ekor dengan panjang rata-rata 10x bagian kepala
4. Asuhan kehamilan normal dan identifikasi kehamilan dalam rangka penapisan untuk menjaring keadaan resiko tinggi dan mencegah adanya komplikasi kehamilan.
STANDAR ASUHAN KEHAMILAN
Kebijakan program : Anjuran WHO
• Trimester I : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Dua kali kunjungan
Standar Minimal Asuhan Antenatal : “7 T”
1. Timbang berat badan
2. Tinggi fundus uteri
3. Tekanan darah
4. Tetanus toxoid
5. Tablet Fe
6. Tes PMS
7. Temu wicara
Sebagai profesional bidan, dalam melaksanakan prakteknya harus sesuai dengan standard pelayanan kebidanan yang berlaku. Standard mencerminkan norma, pengetahuan dan tingkat kinerja yang telah disepakati oleh profesi. Penerapan standard pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan atas dasar yang jelas. Kelalaian dalam praktek terjadi bila pelayanan yang diberikan tidak memenuhi standard dan terbukti membahayakan.
PRINSIP POKOK ASUHAN KEHAMILAN
Prinsip-prinsip pokok asuhan antenatal konsisten dengan dan didukung oleh prinsip-prinsip asuhan kebidanan. Lima prinsip-prinsip utama asuhan kebidanan adalah :
a. Kelahiran adalah proses yang normal :
Kehamilan dan kelahiran biasanya merupakan proses yang normal, alami dan sehat. Sebagai bidan, kita membantu dan melindungi proses kelahiran tersebut. Sebagai bidan kita percaya bahwa model asuhan kebidanan yang membantu dan melindungi proses kelahiran normal, adalah yang paling sesuai untuk kebanyakan ibu selama kehamilan dan kelahiran.
b. Pemberdayaan :
Ibu dan keluarga mempunyai kebijaksanaan dan seringkali tau kapan mereka akan melahirkan. Keyakinan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dan merawat bayi bisa ditingkatkan atau dihilangkan oleh orang yang memberikan asuhan padanya dan oleh lingkungan dimana ia melahirkan. Jika kita bersikap negatif atau kritis, hal ini akan mempengaruhi si ibu. Hal ini juga dapat mempengaruhi lamanya waktu persalinan. Kita, sebagai bidan, harus membantu ibu yang melahirkan daripada untuk mencoba mengontrol persalinannya. Kita harus menghormati bahwa ibu adalah aktor utama dan penolong persalinan adalah aktor pembantu selama proses kelahiran.
c. Otonomi :
Ibu dan keluarga memerlukan informasi sehingga mereka dapat membuat suatu keputusan. Kita harus tau dan menjelaskan informasi yang akurat tentang resiko dan keuntungan semua prosedur, obat-obatan dan tes. Kita juga harus membantu ibu dalam membuat suatu pilihan tentang apa yang terbaik untuk diri dan bayinya berdasarkan nilai dan kepercayaannya (termasuk kepercayaan-kepercayaan budaya dan agama)
d. Jangan Membahayakan :
Intervensi haruslah tidak dilaksanakan secara rutin kecuali terdapat indikasi-indikasi yang spesifik. Pengobatan pada kehamilan, kelahiran atau periode pasca persalinan dengan tes-tes ”rutin”, obat atau prosedur dapat membahayakan bagi ibu dan bayinya. Misalnya prosedur-prosedur yang keuntungannya tidak mempunyai bukti termasuk episiotomi rutin pada primipara, enema dan pengisapan pada semua bayi baru lahir. Bidan yang terampil harus tau kapan harus melakukan sesuatu. Asuhan selama kehamilan, kelahiran dan pasca persalinan, seperti halnya juga penanganan komplikasi harus dilakukan berdasarkan suatu bukti.
e. Tanggung Jawab :
Setiap penolong persalinan harus bertanggung jawab terhadap kualitas asuhan yang ia berikan. Praktek asuhan maternitas harus dilakukan berdasarkan kebutuhan ibu dan bayinya, bukan atas kebutuhan penolong persalinan. Asuhan yang berkualitas tinggi, berfokus pada klien dan sayang ibu berdasarkan bukti ilmiah sekarang ini adalah tanggung jawab semua bidan.
EVIDANCE BASED DLM PRAKTEK KEHAMILAN
Asuhan antenatal yang tidak bermanfaat bahkan merugikan :
1. Menimbang BB secara rutin
2. Penilaian letak janin < style="font-weight: bold; font-style: italic;">Asuhan antenatal yang direkomendasikan :
1. Kunjungan antenatal yang berorientasi pada tujuan petugas kesehatan terampil
2. Persiapan kelahiran * kesiapan menghadapi kompliksi
3. Konseling KB
4. Pemberian ASI
5. Tanda-tanda bahaya, HIV/AIDS
6. Nutrisi
7. Deteksi dan penatalaksanaan kondisi dan komplikasi yang diderita
8. TT
9. Zat besi dan asam folat
10. Pada populasi tertentu, pengobatan preventif malaria, yodium dan vitamin A
TENAGA PROFESIONAL/PENOLONG YANG TERAMPIL Tindakan bidan saat kunjungan antenatal :
1. Mendengarkan dan berbicara kepada ibu serta keluarganya untuk membina hubungan saling percaya
2. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk membuat rencana persalinan
3. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk persiapan menghadapi komplikasi
4. melakukan penapisan untuk kondisi yang mengharuskan melahirkan di RS
5. Mendeteksi dan mengobati komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa (pre-eklamsia, anemia, PMS)
6. Mendeteksi adanya kehamilan ganda setelah usia kehamilan 28 mg dan adanya kelainan letak setelah usia kehamilan 36 mg
7. Memberikan konseling pada ibu sesuai usia kehamilannya, mengenai nutrisi, istirahat, tanda-tanda bahaya, KB, pemberian ASI, ketidaknyamanan yang normal selama kehamilan dsb 8. Memberikan suntikan imunisasi TT bila diperlukan
9. Memberikan suplemen mikronutrisi, termasuk zat besi an folat secara rutin, serta vitamin A bila perlu
ASUHAN ANTENATAL YANG TERFOKUS Tujuan Asuhan Antenatal terfokus meliputi :
1. Peningkatan kesehatan dan kelangsungan hidup melalui :
a. Pendidikan dan konseling kesehatan tentang :
1) Tanda-tanda bahaya dan tindakan yang tepat
2) Gizi termasuk suplemen mikronutrisi serta hidrasi
3) Persiapan untuk pemberian ASI eksklusif segera
4) Pencegahan dan pengenalan gejala-gejala PMS
5) Pencegahan malaria dan infstasi helmith
b. Pembuatan rencana persalinan termasuk kesiapan menghadapi persalinan komplikasi
c. Penyediann TT
d. Suplemen zat besi dan folat, vitamin A, yodium dan kalsium
e. Penyediaan pengobatan/pemberantasan penyakit cacing dan daerah endemi malaria
f. Melibatkan ibu secara aktif dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesiapan menghadapi persalinan
2. Deteksi dini penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin :
a. Anemia parah
b. Proteinura
c. Hypertensi
d. Syphilis dan PMS
e. HIV
f. Malpresentasi janin setelah minggu ke 36
g. Gerakan janin dan DJJ
3. Intervensi yang tepat waktu untuk menatalaksana suatu penyakit atau komplikasi
a. Anemia parah
b. Pendarahan selama kehamilan
c. Hypertensi, pre-eklamsia dan eklamsia
d. Syphilis, chlamidia, GO, herpes serta PMS lainnya
e. HIV
f. Malpresentasi setelah minggu ke- 36
g. Kematian janin dalam kandungan
h. Penyakit lainnya seperti TBC, diabetes, hepatitis, demam reumatik
Isi asuhan antenatal terfokus :
Setiap wanita hamil, melahirkan atau nifas mengalami resiko komplikasinyang serius dan mengancam jiwanya. Meskipun pertimbangan ’resiko’ ini bisa digunakan oleh individu-individu bidan, perawat dan dokter untuk menyusun advis pengobatan. Kadang kala wanita hamil yang beresiko rendah sering terabaikan sehingga mengembangkan komplikasi dan banyak yang lainnya yang memiliki RESTI malah melahirkan tanpa masalah sama sekali.
4. Peningkatan kesehatan dan komunikasi antar pribadi
a. Pendidikan kesehatan yang bersifat mengikutsertakan dan tidak memecahkan masalah kekhawatiran daripada klien sering sekali ’dipersyaratkan’ sebagai bagian dari asuhan antenatal yang rutin
b. Para klien harus dilibatkan sebagai peserta aktif dalam pendekatan terhadap pendidikan beserta pemecahan masalahnya
c. Kesiapan mental untuk melahirkan dan mengasuh kelahiran yang akan datang
5. Kesiapan kelahiran yang berfokus pada klien dan masyarakat
a. Rencana persalinan : tempat persalinan, penolong yang terampil, serta perlengkapan ibu & bayi, transportasi yang inovatif serta sistem perujukannya, dana darurat.
b. Asuhan antenatal secara terus menerus terfokus pada klien serta lingkungannya untuk memaksimalkan kesempatan memperoleh hasil kehamilan yang sehat ibu dan anak.
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB BIDAN DALAM ASUHAN KEHAMILAN
Pada setiap tingkat masyarakat dan negara terdapat tindakan yang dapat diambil oleh bidan untuk membantu memastikan bahwa ibu-ibu tidak akan meninggal dalam kehamilan dan kelahiran.
Tindakan-tindakan ini dapat dilakukan pada beberapa tingkatan :
1. Rumah dan masyarakat
2. Pusat kesehatan atau rumah bersalin
3. Rumah sakit
Rumah, masyarakat
a. Bagilah apa yang anda ketahui :
bidan dapat mengajar ibu-ibu, anggota masyarakat lainnya, bidan-bidan lain dan petugas kesehatan lainnya tentang tanda-tanda bahaya. Ia juga dapat membagi informasi tentang dimana mencari petugas dan fasilitas kesehatan yang dapatmembantu jika tanda-tanda bahaya terjadi. Ia dapat menekankan alasan dan keuntungan didampingi oleh penolong kesehatan yang terampil pada saat persalinan selain mempromosikan dan menunjukkan perilaku yang sehat. Bidan juga harus mengajarkan sesuatu berdasarkan kebutuhan orang yang ia layani.
b. Jaringan promosi kesehatan :
bidan harus melakukan kontak yang positif dengan pemuka-pemuka masyarakat, selain ibu-ibu yang lebih tua dan gadis-gadis muda di dalam masyarakatnya. Ia dapat mengajari keluarga dan masyarakat bagaimana mengenali ibu yang memerlukan asuhan kegawatdaruratan dan bagaimana mengatur asuhan tersebut (dana darurat, pola menabung, transportasi, komunikasi, donor darah).
c. Membangun kepercayaan :
bidan harus berperilaku yang memberikan rasa hormat kepada ibu dan keluarga yang ia layani. Membangun kepercayaan adalah suatu keterampilan penyelamatan jiwa. Jika seorang bidan memiliki keterampilan teknis untuk menangani eklampsia atau perdarahan pasca persalinan, tetapi ia tidak dipercaya, maka tidak ada seseorangpun yang akan meminta bantuannya. Walaupun seorang bidan mempunyai keterampilan teknis untuk menyelamatkan jiwa seorang ibu, tetapi tidak memiliki kepercayaan dari ibu tersebut, ia tidak akan diberikan kesempatan untuk mempergunakan keterampilannya dan menyelamatkan jiwa si ibu tadi.
Pusat Kesehatan atau rumah bersalin
a. Asuhan yang berkualitas :
memberikan asuhan yang berkualitas pada kelahiran akan membantu mencegah komplikasi, mendeteksi masalah lebih dini dan kemampuan untuk mengatur , menstabilisasi dan merujuk masalah yang memerlukan penanganan di rumah sakit.
b. Penatalaksanaan kegawatdaruratan awal :
memberikan penatalaksanaan awal perdarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis, aborsi yang tidak aman dan partus macet sangat penting untuk menyelamatkan jiwa ibu.
c. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus memberikan contoh yang baik kepada bidan lain, petugas kebersihan dan staf yang lain. Bidan harus memberikan contoh pelaksanaan dan pencegahan infeksi yang baik dan keterampilan-keterampilan interpersonal yang berkualitas.
Rumah Sakit
a. Penatalaksanaan Komplikasi :
memberikan pelayanan seperti bantuan vacum ekstraksi, magnesium sulfat, antibiotik intra vena, plasenta manual, tranfusi darah dan operasi sesar yang sangat penting.
b. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus mengajarkan dan memberikan contoh, asuhan maternitas yang berkualitas, termasuk keterampilan berkomunikasi secara interpersonal kepada semua kolega
HAK-HAK WANITA HAMIL
a. Wanita hamil berhak mendapat penjelasan oleh tenaga kesehatan yang memberikan asuhan tentang efek-efek potensial langsung/tidak langsung dari penggunaan obat atau tindakan selama masa kehamilan, persalinan. Kelahiran atau menyusui
b. Wanita hamil berhak mendapat informasi terapi alternatif sehingga dapat mengurangi atau meniadakan kebutuhan akan obat dan intervensi obstetri
c. Pasien kebidanan berhak untuk merawat bayinya sendiri bila bayinya normal
d. Pasien kebidanan berhak memperoleh informasi tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya selama persalinan dan kualifikasi orang tersebut
e. Pasien kebidanan berhak memperoleh/memiliki catatan medis dirinya serta bayinya dengan lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
f. Wanita hamil berhak mendapat informasi efek tindakan yang akan dilakukan baik pada ibu & janin
g. Wanita hamil berhak untuk ditemani selama masa-masa yang menegangkan pada saat kehamilan & persalinan
h. Pasien kebidanan berhak memperoleh catatan perincian biaya RS/tindakan atas dirinya.
i. Wanita hamil berhak mendapat informasi sebelum/bila diantisipasi akan dilakukan SC
j. Wanita hamil berhak mendapat informasi tentang merk obat dan reaksi yang akan ditimbulkan atau reaksi obat yang pernah dialaminya
k. Wanita hamil berhak mengetahui nama-nama yang memberikan obat-obat atau melakukan prosedur tindakan
l. Wanita hamil berhak mendapat informasi yang akan dilakukan atasnya
m. Wanita hamil berhak memilih konsultasi medik untuk memilih posisi yang persalinan yang dapat menurunkan stress
Sumber:
1. Varney. Varney midwifery. Jakarta;1997.
2. Pusdiknakes;WHO;JHPIEGO. Buku asuhan antenatal; 2001
3. Saifudin, abdul bari dkk. Panduan praktis pelayanan maternal dan neonatal. Jakarta;2002.
4. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. Konsep asuhan kebidanan. Jakarta;2001
5. Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
6. Departemen Kesehatan RI,. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga, Jakarta; 1992.
7. Berbagai sumber
http://bidanshop.blogspot.com/2010/04/konsep-dasar-asuhan-kehamilan.html
Filosofi adalah pernyataan mengenai keyakinan dan nilai/value yang dimiliki yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang/kelompok. Filosofi asuhan kehamilan menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien selama masa kehamilan.
FILOSOFI ASUHAN KEHAMILAN
Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan itu.
1. Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis, bukan patologis. Oleh karenanya, asuhan yang diberikan pun adalah asuhan yang meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi proses alamiah dari kehamilan dan menghindari tindakan-tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti manfaatnya.
2. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (continuity of care) Sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan pelayanan dari seorang profesional yang sama atau dari satu team kecil tenaga profesional, sebab dengan begitu maka perkembangan kondisi mereka setiap saat akan terpantau dengan baik selain juga mereka menjadi lebih percaya dan terbuka karena merasa sudah mengenal si pemberi asuhan .
3. Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga (family centered)
Wanita (ibu) menjadi pusat asuhan kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang diberikan harus berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya tidak hanya melibatkan ibu hamil saja melainkan juga keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab keluarga menjadi bagian integral/tak terpisahkan dari ibu hamil. Sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi oleh keluarga. Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Selain itu, keluarga juga merupakan unit sosial yang terdekat dan dapat memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya. Dalam hal pengambilan keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama antara ibu, keluarganya, dan bidan, dengan ibu sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. Ibu mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan kepada siapa dan dimana ia akan memperoleh pelayanan kebidanannya.
4. Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untuk berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/pengalaman yang berhubungan dengan kehamilannya. Tenaga profesional kesehatan tidak mungkin terus menerus mendampingi dan merawat ibu hamil, karenanya ibu hamil perlu mendapat informasi dan pengalaman agar dapat merawat diri sendiri secara benar. Perempuan harus diberdayakan untuk mampu mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui tindakan KIE dan konseling yang dilakukan bidan.
Seorang bidan harus memahami bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang alamiah dan fisiologis, walau tidak dipungkiri dalam beberapa kasus mungkin terjadi komplikasi sejak awal karena kondisi tertentu/ komplikasi tersebut terjadi kemudian. Proses kelahiran meliputi kejadian fisik, psikososial dan kultural.
Kehamilan merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi perempuan, keluarga dan masyarakat. Perilaku ibu selama masa kehamilannya akan mempengaruhi kehamilannya, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesehatan ibu dan janin yang dilahirkan. Bidan harus mempertahankan kesehatan ibu dan janin serta mencegah komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan sebagai satu kesatuan yang utuh.
TUJUAN ANTENATAL CARE
a. Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi
c. Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan/komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan bayi dengan trauma seminimal mungkin
e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Ekslusif
f. Peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin (280 hari/ 40 mg) atau 9 bulan 7 hari. Periode dalam kehamilan terbagi dalam 3 triwulan/trimester :
1. Trimester I awal kehamilan sampai 14 mg
2. Trimester II kehamilan 14 mg – 28 mg
3. Trimester III kehamilan 28 mg – 36 mg/ 40 mg
SEJARAH ASUHAN KEHAMILAN
Dimasa yang lalu, bidan dan dokter banyak menggunakan waktu selama kunjungan antenatal untuk penilaian resiko berdasarkan riwayat medis dan obstetri serta temuan-temuan fisik yang lalu. Tujuan dari penilaian resiko ini adalah untuk mengidentifikasi ibu yang beresiko tinggi dan merujuk ibu-ibu ini untuk mendapatkan asuhan yang khusus. Sekarang kita telah mengetahui bahwa penilaian resiko tidak mencegah kesakitan dan kematian maternal dan perinatal. Penilaian resiko juga tidak menjamin perkiraan, ibu yang mana yang akan mempunyai masalah selama persalinan. Mengapa penilaian resiko tidak lagi digunakan? Ia tidak lagi dipergunakan karena setiap ibu hamil akan menghadapi resiko komplikasi dan harus mempunyai jangkauan kepada asuhan kesehatan maternal yang berkualitas. Hampir tidak mungkin memperkirakan ibu hamil yang mana yang akan menghadapi komplikasi yang akan mengancam keselamatan jiwa secara akurat. Banyak ibu-ibu yang digolongkan ”beresiko tinggi” yang tidak mengalami komplikasi apapun. Misalnya seorang ibu yang tingginya kurang dari 139 cm mungkin akan melahirkan bayi seberat 2500 gram tanpa masalah. Demikian juga, seorang ibu yang mempunyai riwayat tidak begitu berarti, kehamilan normal dan persalinan yang tidak berkomplikasi mungkin saja mengalami perdarahan pasca persalinan.
Dalam suatu studi di Zaire, dengan menggunakan berbgai macam metode, formula dan skala untuk melakukan penapisan ”resiko” diteliti. Studi ini menemukan bahwa 71 % ibu yang mengalami partus macet tidak digolongkan ke dalam kelompok beresiko sebelumnya. Sebagai tambahan, 90 % ibu-ibu yang diidentifikasi ”beresiko” tidak mengalami komplikasi. Kebanyakan ibu-ibu yang mengalami komplikasi tidak mempunyai faktor resiko dan digolongkan ke dalam kelompok ”beresiko rendah”. Suatu contoh seorang ibu yang beresiko rendah adalah berumur 24 tahun, G2 P1 tanpa faktor resiko dan persalinan normal yang melahirkan bayi 3 kg dan mengalami perdarahan 1000 cc karena atonia uteri.
LINGKUP ASUHAN KEHAMILAN Ruang lingkup asuhan kehamilan meliputi
1. Konsepsi :
Bersatunya ovum dan sperma yang didahului oleh ovulasi dan inseminasi
2. Ovulasi :
Runtuhnya ovum dari folikel dalam ovarium bila ovum gagal bertemu dalam waktu 2 x 24 jam → mati/hancur
3. Inseminasi :
Keluarnya sperma dari urethra pria kedalam vagina wanita. Sperma bergerak melalui uterus → tuba fallopi dengan kecepatan 1 kaki/jam. Alat gerak sperma → Ekor dengan panjang rata-rata 10x bagian kepala
4. Asuhan kehamilan normal dan identifikasi kehamilan dalam rangka penapisan untuk menjaring keadaan resiko tinggi dan mencegah adanya komplikasi kehamilan.
STANDAR ASUHAN KEHAMILAN
Kebijakan program : Anjuran WHO
• Trimester I : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Satu kali kunjungan
• Trimester II : Dua kali kunjungan
Standar Minimal Asuhan Antenatal : “7 T”
1. Timbang berat badan
2. Tinggi fundus uteri
3. Tekanan darah
4. Tetanus toxoid
5. Tablet Fe
6. Tes PMS
7. Temu wicara
Sebagai profesional bidan, dalam melaksanakan prakteknya harus sesuai dengan standard pelayanan kebidanan yang berlaku. Standard mencerminkan norma, pengetahuan dan tingkat kinerja yang telah disepakati oleh profesi. Penerapan standard pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan atas dasar yang jelas. Kelalaian dalam praktek terjadi bila pelayanan yang diberikan tidak memenuhi standard dan terbukti membahayakan.
PRINSIP POKOK ASUHAN KEHAMILAN
Prinsip-prinsip pokok asuhan antenatal konsisten dengan dan didukung oleh prinsip-prinsip asuhan kebidanan. Lima prinsip-prinsip utama asuhan kebidanan adalah :
a. Kelahiran adalah proses yang normal :
Kehamilan dan kelahiran biasanya merupakan proses yang normal, alami dan sehat. Sebagai bidan, kita membantu dan melindungi proses kelahiran tersebut. Sebagai bidan kita percaya bahwa model asuhan kebidanan yang membantu dan melindungi proses kelahiran normal, adalah yang paling sesuai untuk kebanyakan ibu selama kehamilan dan kelahiran.
b. Pemberdayaan :
Ibu dan keluarga mempunyai kebijaksanaan dan seringkali tau kapan mereka akan melahirkan. Keyakinan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dan merawat bayi bisa ditingkatkan atau dihilangkan oleh orang yang memberikan asuhan padanya dan oleh lingkungan dimana ia melahirkan. Jika kita bersikap negatif atau kritis, hal ini akan mempengaruhi si ibu. Hal ini juga dapat mempengaruhi lamanya waktu persalinan. Kita, sebagai bidan, harus membantu ibu yang melahirkan daripada untuk mencoba mengontrol persalinannya. Kita harus menghormati bahwa ibu adalah aktor utama dan penolong persalinan adalah aktor pembantu selama proses kelahiran.
c. Otonomi :
Ibu dan keluarga memerlukan informasi sehingga mereka dapat membuat suatu keputusan. Kita harus tau dan menjelaskan informasi yang akurat tentang resiko dan keuntungan semua prosedur, obat-obatan dan tes. Kita juga harus membantu ibu dalam membuat suatu pilihan tentang apa yang terbaik untuk diri dan bayinya berdasarkan nilai dan kepercayaannya (termasuk kepercayaan-kepercayaan budaya dan agama)
d. Jangan Membahayakan :
Intervensi haruslah tidak dilaksanakan secara rutin kecuali terdapat indikasi-indikasi yang spesifik. Pengobatan pada kehamilan, kelahiran atau periode pasca persalinan dengan tes-tes ”rutin”, obat atau prosedur dapat membahayakan bagi ibu dan bayinya. Misalnya prosedur-prosedur yang keuntungannya tidak mempunyai bukti termasuk episiotomi rutin pada primipara, enema dan pengisapan pada semua bayi baru lahir. Bidan yang terampil harus tau kapan harus melakukan sesuatu. Asuhan selama kehamilan, kelahiran dan pasca persalinan, seperti halnya juga penanganan komplikasi harus dilakukan berdasarkan suatu bukti.
e. Tanggung Jawab :
Setiap penolong persalinan harus bertanggung jawab terhadap kualitas asuhan yang ia berikan. Praktek asuhan maternitas harus dilakukan berdasarkan kebutuhan ibu dan bayinya, bukan atas kebutuhan penolong persalinan. Asuhan yang berkualitas tinggi, berfokus pada klien dan sayang ibu berdasarkan bukti ilmiah sekarang ini adalah tanggung jawab semua bidan.
EVIDANCE BASED DLM PRAKTEK KEHAMILAN
Asuhan antenatal yang tidak bermanfaat bahkan merugikan :
1. Menimbang BB secara rutin
2. Penilaian letak janin < style="font-weight: bold; font-style: italic;">Asuhan antenatal yang direkomendasikan :
1. Kunjungan antenatal yang berorientasi pada tujuan petugas kesehatan terampil
2. Persiapan kelahiran * kesiapan menghadapi kompliksi
3. Konseling KB
4. Pemberian ASI
5. Tanda-tanda bahaya, HIV/AIDS
6. Nutrisi
7. Deteksi dan penatalaksanaan kondisi dan komplikasi yang diderita
8. TT
9. Zat besi dan asam folat
10. Pada populasi tertentu, pengobatan preventif malaria, yodium dan vitamin A
TENAGA PROFESIONAL/PENOLONG YANG TERAMPIL Tindakan bidan saat kunjungan antenatal :
1. Mendengarkan dan berbicara kepada ibu serta keluarganya untuk membina hubungan saling percaya
2. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk membuat rencana persalinan
3. Membantu setiap wanita hamil dan keluarga untuk persiapan menghadapi komplikasi
4. melakukan penapisan untuk kondisi yang mengharuskan melahirkan di RS
5. Mendeteksi dan mengobati komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa (pre-eklamsia, anemia, PMS)
6. Mendeteksi adanya kehamilan ganda setelah usia kehamilan 28 mg dan adanya kelainan letak setelah usia kehamilan 36 mg
7. Memberikan konseling pada ibu sesuai usia kehamilannya, mengenai nutrisi, istirahat, tanda-tanda bahaya, KB, pemberian ASI, ketidaknyamanan yang normal selama kehamilan dsb 8. Memberikan suntikan imunisasi TT bila diperlukan
9. Memberikan suplemen mikronutrisi, termasuk zat besi an folat secara rutin, serta vitamin A bila perlu
ASUHAN ANTENATAL YANG TERFOKUS Tujuan Asuhan Antenatal terfokus meliputi :
1. Peningkatan kesehatan dan kelangsungan hidup melalui :
a. Pendidikan dan konseling kesehatan tentang :
1) Tanda-tanda bahaya dan tindakan yang tepat
2) Gizi termasuk suplemen mikronutrisi serta hidrasi
3) Persiapan untuk pemberian ASI eksklusif segera
4) Pencegahan dan pengenalan gejala-gejala PMS
5) Pencegahan malaria dan infstasi helmith
b. Pembuatan rencana persalinan termasuk kesiapan menghadapi persalinan komplikasi
c. Penyediann TT
d. Suplemen zat besi dan folat, vitamin A, yodium dan kalsium
e. Penyediaan pengobatan/pemberantasan penyakit cacing dan daerah endemi malaria
f. Melibatkan ibu secara aktif dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kesiapan menghadapi persalinan
2. Deteksi dini penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin :
a. Anemia parah
b. Proteinura
c. Hypertensi
d. Syphilis dan PMS
e. HIV
f. Malpresentasi janin setelah minggu ke 36
g. Gerakan janin dan DJJ
3. Intervensi yang tepat waktu untuk menatalaksana suatu penyakit atau komplikasi
a. Anemia parah
b. Pendarahan selama kehamilan
c. Hypertensi, pre-eklamsia dan eklamsia
d. Syphilis, chlamidia, GO, herpes serta PMS lainnya
e. HIV
f. Malpresentasi setelah minggu ke- 36
g. Kematian janin dalam kandungan
h. Penyakit lainnya seperti TBC, diabetes, hepatitis, demam reumatik
Isi asuhan antenatal terfokus :
Setiap wanita hamil, melahirkan atau nifas mengalami resiko komplikasinyang serius dan mengancam jiwanya. Meskipun pertimbangan ’resiko’ ini bisa digunakan oleh individu-individu bidan, perawat dan dokter untuk menyusun advis pengobatan. Kadang kala wanita hamil yang beresiko rendah sering terabaikan sehingga mengembangkan komplikasi dan banyak yang lainnya yang memiliki RESTI malah melahirkan tanpa masalah sama sekali.
4. Peningkatan kesehatan dan komunikasi antar pribadi
a. Pendidikan kesehatan yang bersifat mengikutsertakan dan tidak memecahkan masalah kekhawatiran daripada klien sering sekali ’dipersyaratkan’ sebagai bagian dari asuhan antenatal yang rutin
b. Para klien harus dilibatkan sebagai peserta aktif dalam pendekatan terhadap pendidikan beserta pemecahan masalahnya
c. Kesiapan mental untuk melahirkan dan mengasuh kelahiran yang akan datang
5. Kesiapan kelahiran yang berfokus pada klien dan masyarakat
a. Rencana persalinan : tempat persalinan, penolong yang terampil, serta perlengkapan ibu & bayi, transportasi yang inovatif serta sistem perujukannya, dana darurat.
b. Asuhan antenatal secara terus menerus terfokus pada klien serta lingkungannya untuk memaksimalkan kesempatan memperoleh hasil kehamilan yang sehat ibu dan anak.
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB BIDAN DALAM ASUHAN KEHAMILAN
Pada setiap tingkat masyarakat dan negara terdapat tindakan yang dapat diambil oleh bidan untuk membantu memastikan bahwa ibu-ibu tidak akan meninggal dalam kehamilan dan kelahiran.
Tindakan-tindakan ini dapat dilakukan pada beberapa tingkatan :
1. Rumah dan masyarakat
2. Pusat kesehatan atau rumah bersalin
3. Rumah sakit
Rumah, masyarakat
a. Bagilah apa yang anda ketahui :
bidan dapat mengajar ibu-ibu, anggota masyarakat lainnya, bidan-bidan lain dan petugas kesehatan lainnya tentang tanda-tanda bahaya. Ia juga dapat membagi informasi tentang dimana mencari petugas dan fasilitas kesehatan yang dapatmembantu jika tanda-tanda bahaya terjadi. Ia dapat menekankan alasan dan keuntungan didampingi oleh penolong kesehatan yang terampil pada saat persalinan selain mempromosikan dan menunjukkan perilaku yang sehat. Bidan juga harus mengajarkan sesuatu berdasarkan kebutuhan orang yang ia layani.
b. Jaringan promosi kesehatan :
bidan harus melakukan kontak yang positif dengan pemuka-pemuka masyarakat, selain ibu-ibu yang lebih tua dan gadis-gadis muda di dalam masyarakatnya. Ia dapat mengajari keluarga dan masyarakat bagaimana mengenali ibu yang memerlukan asuhan kegawatdaruratan dan bagaimana mengatur asuhan tersebut (dana darurat, pola menabung, transportasi, komunikasi, donor darah).
c. Membangun kepercayaan :
bidan harus berperilaku yang memberikan rasa hormat kepada ibu dan keluarga yang ia layani. Membangun kepercayaan adalah suatu keterampilan penyelamatan jiwa. Jika seorang bidan memiliki keterampilan teknis untuk menangani eklampsia atau perdarahan pasca persalinan, tetapi ia tidak dipercaya, maka tidak ada seseorangpun yang akan meminta bantuannya. Walaupun seorang bidan mempunyai keterampilan teknis untuk menyelamatkan jiwa seorang ibu, tetapi tidak memiliki kepercayaan dari ibu tersebut, ia tidak akan diberikan kesempatan untuk mempergunakan keterampilannya dan menyelamatkan jiwa si ibu tadi.
Pusat Kesehatan atau rumah bersalin
a. Asuhan yang berkualitas :
memberikan asuhan yang berkualitas pada kelahiran akan membantu mencegah komplikasi, mendeteksi masalah lebih dini dan kemampuan untuk mengatur , menstabilisasi dan merujuk masalah yang memerlukan penanganan di rumah sakit.
b. Penatalaksanaan kegawatdaruratan awal :
memberikan penatalaksanaan awal perdarahan pasca persalinan, eklampsia, sepsis, aborsi yang tidak aman dan partus macet sangat penting untuk menyelamatkan jiwa ibu.
c. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus memberikan contoh yang baik kepada bidan lain, petugas kebersihan dan staf yang lain. Bidan harus memberikan contoh pelaksanaan dan pencegahan infeksi yang baik dan keterampilan-keterampilan interpersonal yang berkualitas.
Rumah Sakit
a. Penatalaksanaan Komplikasi :
memberikan pelayanan seperti bantuan vacum ekstraksi, magnesium sulfat, antibiotik intra vena, plasenta manual, tranfusi darah dan operasi sesar yang sangat penting.
b. Memberikan contoh yang baik :
bidan harus mengajarkan dan memberikan contoh, asuhan maternitas yang berkualitas, termasuk keterampilan berkomunikasi secara interpersonal kepada semua kolega
HAK-HAK WANITA HAMIL
a. Wanita hamil berhak mendapat penjelasan oleh tenaga kesehatan yang memberikan asuhan tentang efek-efek potensial langsung/tidak langsung dari penggunaan obat atau tindakan selama masa kehamilan, persalinan. Kelahiran atau menyusui
b. Wanita hamil berhak mendapat informasi terapi alternatif sehingga dapat mengurangi atau meniadakan kebutuhan akan obat dan intervensi obstetri
c. Pasien kebidanan berhak untuk merawat bayinya sendiri bila bayinya normal
d. Pasien kebidanan berhak memperoleh informasi tentang siapa yang akan menjadi pendampingnya selama persalinan dan kualifikasi orang tersebut
e. Pasien kebidanan berhak memperoleh/memiliki catatan medis dirinya serta bayinya dengan lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
f. Wanita hamil berhak mendapat informasi efek tindakan yang akan dilakukan baik pada ibu & janin
g. Wanita hamil berhak untuk ditemani selama masa-masa yang menegangkan pada saat kehamilan & persalinan
h. Pasien kebidanan berhak memperoleh catatan perincian biaya RS/tindakan atas dirinya.
i. Wanita hamil berhak mendapat informasi sebelum/bila diantisipasi akan dilakukan SC
j. Wanita hamil berhak mendapat informasi tentang merk obat dan reaksi yang akan ditimbulkan atau reaksi obat yang pernah dialaminya
k. Wanita hamil berhak mengetahui nama-nama yang memberikan obat-obat atau melakukan prosedur tindakan
l. Wanita hamil berhak mendapat informasi yang akan dilakukan atasnya
m. Wanita hamil berhak memilih konsultasi medik untuk memilih posisi yang persalinan yang dapat menurunkan stress
Sumber:
1. Varney. Varney midwifery. Jakarta;1997.
2. Pusdiknakes;WHO;JHPIEGO. Buku asuhan antenatal; 2001
3. Saifudin, abdul bari dkk. Panduan praktis pelayanan maternal dan neonatal. Jakarta;2002.
4. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. Konsep asuhan kebidanan. Jakarta;2001
5. Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
6. Departemen Kesehatan RI,. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga, Jakarta; 1992.
7. Berbagai sumber
http://bidanshop.blogspot.com/2010/04/konsep-dasar-asuhan-kehamilan.html
Senin, 13 Desember 2010
Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI
Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi.
Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :
1. Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibunya.
2. Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya sendiri.
Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan :
1. Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama.
2. Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul.
3. Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
4. Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).
5. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
6. Memberikan kolustrum dan ASI saja.
7. Menghindari susu botol dan “dot empeng”.
Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama.
Bayi mulai meyusu sendiri segera setelah lahir sering disebut dengan inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini. Hal ini merupakan peristiwa penting, dimana bayi dapat melakukan kontak kulit langsung dengan ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan. Selain itu, dapat membangkitkan hubungan/ ikatan antara ibu dan bayi. Pemberian ASI seawal mungkin lebih baik, jika memungkinkan paling sedikit 30 menit setelah lahir.
Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul.
Tujuan dari perawatan payudara untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga pengeluaran ASI lancar. Perawatan payudara dilakukan sedini mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan perawatan payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan. Sebelum menyentuh puting susu, pastikan tangan ibu selalu bersih dan cuci tangan sebelum menyusui. Kebersihan payudara paling tidak dilakukan minimal satu kali dalam sehari, dan tidak diperkenankan mengoleskan krim, minyak, alkohol ataupun sabun pada puting susunya.
Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
Membantu ibu segera untuk menyusui bayinya setelah lahir sangatlah penting. Semakin sering bayi menghisap puting susu ibu, maka pengeluaran ASI juga semakin lancar. Hal ini disebabkan, isapan bayi akan memberikan rangsangan pada hipofisis untuk segera mengeluarkan hormon oksitosin yang bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI. Pemberian ASI tidak terlepas dengan teknik atau posisi ibu dalam menyusui.
Posisi menyusui dapat dilakukan dengan :
1. Posisi berbaring miring
2. Posisi duduk
3. Posisi ibu tidur telentang
Posisi berbaring miring
Posisi ini baik dilakukan pada saat pertama kali atau ibu dalam keadaan lelah atau nyeri.
Posisi duduk
Pada saat pemberian ASI dengan posisi duduk dimaksudkan untuk memberikan topangan pada/ sandaran pada punggung ibu dalam posisi tegak lurus (90 derajat) terhadap pangkuannya. Posisi ini dapat dilakukan dengan bersila di atas tempat tidur atau lantai, ataupun duduk di kursi.
Tidur telentang
Seperti halnya pada saat dilakukan inisiasi menyusu dini, maka posisi ini juga dapat dilakukan oleh ibu. Posisi bayi berada di atas dada ibu diantara payudara ibu.
Tanda-tanda bayi bahwa telah berada pada posisi yang baik pada payudara antara lain: a) Seluruh tubuhnya berdekatan dan terarah pada ibu; b) Mulut dan dagu bayi berdekatan dengan payudara; c) Areola tidak akan tampak jelas; d) Bayi akan melakukan hisapan lamban dan dalam, dan menelan ASInya; e) Bayi terlihat senang dan tenang; f) Ibu tidak akan merasa nyeri pada daerah payudaranya.
Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).
Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam ruangan selama 24 jam penuh. Manfaat rawat gabung dalam proses laktasi dapat dilihat dari aspek fisik, fisiologis, psikologis, edukatif, ekonomi maupun medis.
Aspek fisik
Kedekatan ibu dengan bayinya dapat mempermudah bayi menyusu setiap saat, tanpa terjadwal (nir-jadwal). Dengan demikian, semakin sering bayi menyusu maka ASI segera keluar.
Aspek fisiologis
Bila ibu selalu dekat dengan bayinya, maka bayi lebih sering disusui. Sehingga bayi mendapat nutrisi alami dan kecukupan ASI. Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses menyusui akan membantu involusio uteri dan produksi ASI akan dipacu oleh refleks prolaktin. Selain itu, berbagai penelitian menyatakan bahwa dengan ASI eksklusif dapat menjarangkan kehamilan atau dapat digunakan sebagai KB alami.
Aspek psikologis
Rawat gabung dapat menjalin hubungan batin antara ibu dan bayi atau proses lekat (early infant mother bounding). Hal ini disebabkan oleh adanya sentuhan badaniah ibu dan bayi. Kehangatan tubuh ibu memberikan stimulasi mental yang diperlukan bayi, sehingga mempengaruhi kelanjutan perkembangan psikologis bayi. Ibu yang dapat memberikan ASI secara eksklusif, merupakan kepuasan tersendiri.
Aspek edukatif
Rawat gabung memberikan pengalaman bagi ibu dalam hal cara merawat bayi dan merawat dirinya sendiri pasca melahirkan. Pada saat inilah, dorongan suami dan keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu.
Aspek ekonomi
Rawat gabung tidak hanya memberikan manfaat pada ibu maupun keluarga, tetapi juga untuk rumah sakit maupun pemerintah. Hal ini merupakan suatu penghematan dalam pembelian susu buatan dan peralatan lain yang dibutuhkan.
Aspek medis
Pelaksanaan rawat gabung dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Selain itu, ibu dapat melihat perubahan fisik atau perilaku bayinya yang menyimpang dengan cepat. Sehingga dapat segera menanyakan kepada petugas kesehatan sekiranya ada hal-hal yang dianggap tidak wajar.
Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya.
Memberikan kolustrum dan ASI saja.
ASI dan kolustrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi. Kandungan dan komposisi ASI sangat sesuai dengan kebutuhan bayi pada keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan prematur sesuai dengan kebutuhan prematur dan juga sebaliknya ASI dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan maka sesuai dengan kebutuhan bayi cukup bulan juga.
Menghindari susu botol dan “dot empeng”.
Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat bayi bingung puting dan menolak menyusu atau hisapan bayi kurang baik. Hal ini disebabkan, mekanisme menghisap dari puting susu ibu dengan botol jauh berbeda.
Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :
1. Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibunya.
2. Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya sendiri.
Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan :
1. Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama.
2. Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul.
3. Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
4. Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).
5. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
6. Memberikan kolustrum dan ASI saja.
7. Menghindari susu botol dan “dot empeng”.
Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama.
Bayi mulai meyusu sendiri segera setelah lahir sering disebut dengan inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini. Hal ini merupakan peristiwa penting, dimana bayi dapat melakukan kontak kulit langsung dengan ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan. Selain itu, dapat membangkitkan hubungan/ ikatan antara ibu dan bayi. Pemberian ASI seawal mungkin lebih baik, jika memungkinkan paling sedikit 30 menit setelah lahir.
Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul.
Tujuan dari perawatan payudara untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga pengeluaran ASI lancar. Perawatan payudara dilakukan sedini mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan perawatan payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan. Sebelum menyentuh puting susu, pastikan tangan ibu selalu bersih dan cuci tangan sebelum menyusui. Kebersihan payudara paling tidak dilakukan minimal satu kali dalam sehari, dan tidak diperkenankan mengoleskan krim, minyak, alkohol ataupun sabun pada puting susunya.
Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
Membantu ibu segera untuk menyusui bayinya setelah lahir sangatlah penting. Semakin sering bayi menghisap puting susu ibu, maka pengeluaran ASI juga semakin lancar. Hal ini disebabkan, isapan bayi akan memberikan rangsangan pada hipofisis untuk segera mengeluarkan hormon oksitosin yang bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI. Pemberian ASI tidak terlepas dengan teknik atau posisi ibu dalam menyusui.
Posisi menyusui dapat dilakukan dengan :
1. Posisi berbaring miring
2. Posisi duduk
3. Posisi ibu tidur telentang
Posisi berbaring miring
Posisi ini baik dilakukan pada saat pertama kali atau ibu dalam keadaan lelah atau nyeri.
Posisi duduk
Pada saat pemberian ASI dengan posisi duduk dimaksudkan untuk memberikan topangan pada/ sandaran pada punggung ibu dalam posisi tegak lurus (90 derajat) terhadap pangkuannya. Posisi ini dapat dilakukan dengan bersila di atas tempat tidur atau lantai, ataupun duduk di kursi.
Tidur telentang
Seperti halnya pada saat dilakukan inisiasi menyusu dini, maka posisi ini juga dapat dilakukan oleh ibu. Posisi bayi berada di atas dada ibu diantara payudara ibu.
Tanda-tanda bayi bahwa telah berada pada posisi yang baik pada payudara antara lain: a) Seluruh tubuhnya berdekatan dan terarah pada ibu; b) Mulut dan dagu bayi berdekatan dengan payudara; c) Areola tidak akan tampak jelas; d) Bayi akan melakukan hisapan lamban dan dalam, dan menelan ASInya; e) Bayi terlihat senang dan tenang; f) Ibu tidak akan merasa nyeri pada daerah payudaranya.
Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung).
Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam ruangan selama 24 jam penuh. Manfaat rawat gabung dalam proses laktasi dapat dilihat dari aspek fisik, fisiologis, psikologis, edukatif, ekonomi maupun medis.
Aspek fisik
Kedekatan ibu dengan bayinya dapat mempermudah bayi menyusu setiap saat, tanpa terjadwal (nir-jadwal). Dengan demikian, semakin sering bayi menyusu maka ASI segera keluar.
Aspek fisiologis
Bila ibu selalu dekat dengan bayinya, maka bayi lebih sering disusui. Sehingga bayi mendapat nutrisi alami dan kecukupan ASI. Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses menyusui akan membantu involusio uteri dan produksi ASI akan dipacu oleh refleks prolaktin. Selain itu, berbagai penelitian menyatakan bahwa dengan ASI eksklusif dapat menjarangkan kehamilan atau dapat digunakan sebagai KB alami.
Aspek psikologis
Rawat gabung dapat menjalin hubungan batin antara ibu dan bayi atau proses lekat (early infant mother bounding). Hal ini disebabkan oleh adanya sentuhan badaniah ibu dan bayi. Kehangatan tubuh ibu memberikan stimulasi mental yang diperlukan bayi, sehingga mempengaruhi kelanjutan perkembangan psikologis bayi. Ibu yang dapat memberikan ASI secara eksklusif, merupakan kepuasan tersendiri.
Aspek edukatif
Rawat gabung memberikan pengalaman bagi ibu dalam hal cara merawat bayi dan merawat dirinya sendiri pasca melahirkan. Pada saat inilah, dorongan suami dan keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu.
Aspek ekonomi
Rawat gabung tidak hanya memberikan manfaat pada ibu maupun keluarga, tetapi juga untuk rumah sakit maupun pemerintah. Hal ini merupakan suatu penghematan dalam pembelian susu buatan dan peralatan lain yang dibutuhkan.
Aspek medis
Pelaksanaan rawat gabung dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Selain itu, ibu dapat melihat perubahan fisik atau perilaku bayinya yang menyimpang dengan cepat. Sehingga dapat segera menanyakan kepada petugas kesehatan sekiranya ada hal-hal yang dianggap tidak wajar.
Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya.
Memberikan kolustrum dan ASI saja.
ASI dan kolustrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi. Kandungan dan komposisi ASI sangat sesuai dengan kebutuhan bayi pada keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan prematur sesuai dengan kebutuhan prematur dan juga sebaliknya ASI dari ibu yang melahirkan bayi cukup bulan maka sesuai dengan kebutuhan bayi cukup bulan juga.
Menghindari susu botol dan “dot empeng”.
Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat bayi bingung puting dan menolak menyusu atau hisapan bayi kurang baik. Hal ini disebabkan, mekanisme menghisap dari puting susu ibu dengan botol jauh berbeda.
Minggu, 12 Desember 2010
Dipenjara Akibat Menolong
judul itu bukan rekaan bukan pula bualan bukan pula kisah dongeng di buku-buku cerita anak dan novel-novel kemanusiaan. itu adalah kejadian nyata yang terjadi di pedalaman kalimantan.
putusan hakim PN Tenggarong yang diketuai oleh Bahuri dengan hakim anggota Nugraheni Maenasti dan Agus Nardiansyah memutus hukuman 3 bulan penjara, denda Rp 2 juta rupiah subsider 1 bulan pada 19 November 2009. Hakim menjatuhkan hukuman berdasarkan UU 36/ 2009 tentang Kesehatan pasal 82 (1) huruf D jo Pasal 63 (1) UU No 32/1992 tentang Kesehatan kepada Misram karena Mirsam tak punya kewenangan memberikan pertolongan layaknya dokter.
Putusan ini lalu dikuatkan oleh PT Samarinda, kemarin Putusan banding bernomor Reg 04/PID/2010/PT. KT. Samarinda bertanggal 19 Januari 2010 dibuat oleh Ketua Hakim Suntoro Husodo dengan hakim anggota Syasafrullah Sumar dan Kita Jenda Ginting menguatkan putusan PN Tenggarong. Putusan banding tersebut menyebutkan tidak merevisi keputusan PN Tenggarong.
dan akibat putusan pengadilan ini, 13 mantri di 3 kabupaten pedalaman Kalimantan memohon keadilan ke MK karena merasa dikriminalisasikan oleh UU Kesehatan.
putusan ini jelas sangat konyol karena hakim sama sekali tidak melihat kondisi sosial masyarakat serta kendala geografis daerah pedalaman yang tidak dapat dijangkau atau mungkin lebih tepatnya hampir tidak ada dokter yang mau bertugas di wilayah-wilayah pedalaman.
hakim harusnya memahami latar belakang permasalahannya. keterbatasan alam dan geografis yang menjadi alasan mantri desa berpraktek, dan dengan segala keterbatasan obat serta peralatan masih mau berjuang dipedalaman. pertanyaannya apakah masyarakat pedalaman harus menunngu atau di angkut ke kota yang membutuhkan waktu berhari-hari perjalanan darat yang sangat tak manusiawi menemui dokter bedah tulang, jika mengalami patah kaki …..? sangat tidak masuk akal. mungkin keburu busuk kakinya.
Dari putusan ini maka masyarakat bisa menilai hakim tidak punya empati dan kurang mengerti inti permasalahan. Terlebih, hakim juga tak bisa mengungkap siapakah pelapor yang mengadukan kasus ini ke kepolisian. jelas pengadilan ini berjalan kurang baik.
Harusnya, hakim tidak boleh memberlakukan hukum secara kaku. Apalagi, akibat putusan ini ratusan mantri/bidan merasa terancam akan diciduk aparat penegak hukum. Alhasil, layanan masyarakat terbengkalai dan pasien dirugikan. jelas ini bukanlah kasus malpraktek. Tak ada yang dirugikan, dengan tindakan mantri dan bidan di pedalaman, bukannya diapresiasi pengabdiannya tapi malah dimasukan bui.
jika sudah seperti ini siapa yang mau bekerja memberi pelayanan dengan ikhlas di wilayah pedalaman dan perbatasan, di tengah keterbatasan. omong kosong anggota DPR di ruang sidang berAC di atas kursi empuk yang setiap bicara menjual nama-nama mereka yang di pedalaman tidak pernah terdengar, seolah masalah di Indonesia hanya soal MARKUS, ada hal yang lebih substantif untuk masyarakat miskin yang harus di tegakan, bukan retorika di studio TV.
para bidan dan mantri pedalaman itu tidak berdemo minta kenaikan gajih, tidak merengek minta Rumah Dinasnya di perbaiki seperti anggota Dewan, tidak perlu mobil mewah Seperti para Menteri, mereka hanya butuh kepastian bahwa mereka bisa menolong dengan tenang tanpa ancaman penjara.
putusan hakim PN Tenggarong yang diketuai oleh Bahuri dengan hakim anggota Nugraheni Maenasti dan Agus Nardiansyah memutus hukuman 3 bulan penjara, denda Rp 2 juta rupiah subsider 1 bulan pada 19 November 2009. Hakim menjatuhkan hukuman berdasarkan UU 36/ 2009 tentang Kesehatan pasal 82 (1) huruf D jo Pasal 63 (1) UU No 32/1992 tentang Kesehatan kepada Misram karena Mirsam tak punya kewenangan memberikan pertolongan layaknya dokter.
Putusan ini lalu dikuatkan oleh PT Samarinda, kemarin Putusan banding bernomor Reg 04/PID/2010/PT. KT. Samarinda bertanggal 19 Januari 2010 dibuat oleh Ketua Hakim Suntoro Husodo dengan hakim anggota Syasafrullah Sumar dan Kita Jenda Ginting menguatkan putusan PN Tenggarong. Putusan banding tersebut menyebutkan tidak merevisi keputusan PN Tenggarong.
dan akibat putusan pengadilan ini, 13 mantri di 3 kabupaten pedalaman Kalimantan memohon keadilan ke MK karena merasa dikriminalisasikan oleh UU Kesehatan.
putusan ini jelas sangat konyol karena hakim sama sekali tidak melihat kondisi sosial masyarakat serta kendala geografis daerah pedalaman yang tidak dapat dijangkau atau mungkin lebih tepatnya hampir tidak ada dokter yang mau bertugas di wilayah-wilayah pedalaman.
hakim harusnya memahami latar belakang permasalahannya. keterbatasan alam dan geografis yang menjadi alasan mantri desa berpraktek, dan dengan segala keterbatasan obat serta peralatan masih mau berjuang dipedalaman. pertanyaannya apakah masyarakat pedalaman harus menunngu atau di angkut ke kota yang membutuhkan waktu berhari-hari perjalanan darat yang sangat tak manusiawi menemui dokter bedah tulang, jika mengalami patah kaki …..? sangat tidak masuk akal. mungkin keburu busuk kakinya.
Dari putusan ini maka masyarakat bisa menilai hakim tidak punya empati dan kurang mengerti inti permasalahan. Terlebih, hakim juga tak bisa mengungkap siapakah pelapor yang mengadukan kasus ini ke kepolisian. jelas pengadilan ini berjalan kurang baik.
Harusnya, hakim tidak boleh memberlakukan hukum secara kaku. Apalagi, akibat putusan ini ratusan mantri/bidan merasa terancam akan diciduk aparat penegak hukum. Alhasil, layanan masyarakat terbengkalai dan pasien dirugikan. jelas ini bukanlah kasus malpraktek. Tak ada yang dirugikan, dengan tindakan mantri dan bidan di pedalaman, bukannya diapresiasi pengabdiannya tapi malah dimasukan bui.
jika sudah seperti ini siapa yang mau bekerja memberi pelayanan dengan ikhlas di wilayah pedalaman dan perbatasan, di tengah keterbatasan. omong kosong anggota DPR di ruang sidang berAC di atas kursi empuk yang setiap bicara menjual nama-nama mereka yang di pedalaman tidak pernah terdengar, seolah masalah di Indonesia hanya soal MARKUS, ada hal yang lebih substantif untuk masyarakat miskin yang harus di tegakan, bukan retorika di studio TV.
para bidan dan mantri pedalaman itu tidak berdemo minta kenaikan gajih, tidak merengek minta Rumah Dinasnya di perbaiki seperti anggota Dewan, tidak perlu mobil mewah Seperti para Menteri, mereka hanya butuh kepastian bahwa mereka bisa menolong dengan tenang tanpa ancaman penjara.
Pemeriksaan IVA untuk Deteksi Dini Kanker Serviks
Kanker serviks atau kanker leher rahim atau disebut juga kanker mulut rahim merupakan salah satu penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit kandungan yang masih menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum perempuan.
Apakah kanker serviks itu?
Kanker serviks adalah kanker leher rahim / kanker mulut rahim yang di sebabkan oleh virus HPV ( H uman Papiloma Virus )
Bagaimana gejala dari kanker serviks ?
Pada awal stadium kanker hampir tidak ada gejala, kecurigaan timbul bila ada keluhan keputihan atau mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual.
Gejala lanjut dari kanker serviks ini adalah;
-Perdarahan di luar masa haid
- Jumlah darah haid tidak normal
-Perdarahan pada masa menopause ( setelah berhenti haid )
- Keputihan yang bercampur darah atau nanah
Siapa yang beresiko terkena kanker serviks;
- Menikah usia muda
- Melakukan hubungan seks di usia muda
- Berganti – ganti pasangan seks
- Melahirkan banyak anak
- Pasangan ( suami ) yang tidak disunat / di khitan
- Kurang menjaga kebersihan alat kelamin
- Mempunyai riwayat penyakit kelamin kronis
- Sering mengalami keputihan
Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?
SEMAKIN DINI KANKER DITEMUKAN KESEMPATAN UNTUK SEMBUH SEMAKIN BESAR
Bagaimana cara deteksi dini kanker serviks?
ada dua cara yaitu dengan metode pap smear namun biayanya mahal.lalu pilihan kedua adalah dengan metode IVA , biayanya lebih murah.
Bagaimana metode IVA dilakukan?
Pemeriksaan IVA atau Ispeksi Visual dengan Asam Asetat dilakukan dengan cara mengoleskan asam cuka 3 % sampai dengan 5 % . Bila terlihat warna putih berarti ada keganasan sel dan bisa berubah menjadi kanker. Pemeriksaan IVA hanya sebentar dan tidak sakit. Dapat dilakukan di praktek bidan atau puskesmas oleh dokter.
Pengobatan kanker yang memerlukan biaya besar, proses terapi yang tidak mudah, menimbulkan dampak psikologis bagi penderita dan mempengaruhi terhadap seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu sebaiknya sebagai seorang perempuan yang memperhatikan kesehatan diri dan mencintai keluarga berkeinginan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.
Siapakah yang harus diperiksa kanker serviks?
Perempuan yang sudah menikah dan berumur 30 tahun – 50 tahun tahun. Pemeriksaan di ulang secara berkala setiap satu tahun
Bagaimana persiapan pemeriksaan IVA?
Tidak sedang haid, atas sepengetahuan dan dukungan suami.
Segera lakukan pemeriksaan kanker serviks melalui pap smear ataupun melalui IVA, SEBAGAI TANDA CINTA PADA KELUARGA.
Apakah kanker serviks itu?
Kanker serviks adalah kanker leher rahim / kanker mulut rahim yang di sebabkan oleh virus HPV ( H uman Papiloma Virus )
Bagaimana gejala dari kanker serviks ?
Pada awal stadium kanker hampir tidak ada gejala, kecurigaan timbul bila ada keluhan keputihan atau mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual.
Gejala lanjut dari kanker serviks ini adalah;
-Perdarahan di luar masa haid
- Jumlah darah haid tidak normal
-Perdarahan pada masa menopause ( setelah berhenti haid )
- Keputihan yang bercampur darah atau nanah
Siapa yang beresiko terkena kanker serviks;
- Menikah usia muda
- Melakukan hubungan seks di usia muda
- Berganti – ganti pasangan seks
- Melahirkan banyak anak
- Pasangan ( suami ) yang tidak disunat / di khitan
- Kurang menjaga kebersihan alat kelamin
- Mempunyai riwayat penyakit kelamin kronis
- Sering mengalami keputihan
Apakah kanker serviks bisa disembuhkan?
SEMAKIN DINI KANKER DITEMUKAN KESEMPATAN UNTUK SEMBUH SEMAKIN BESAR
Bagaimana cara deteksi dini kanker serviks?
ada dua cara yaitu dengan metode pap smear namun biayanya mahal.lalu pilihan kedua adalah dengan metode IVA , biayanya lebih murah.
Bagaimana metode IVA dilakukan?
Pemeriksaan IVA atau Ispeksi Visual dengan Asam Asetat dilakukan dengan cara mengoleskan asam cuka 3 % sampai dengan 5 % . Bila terlihat warna putih berarti ada keganasan sel dan bisa berubah menjadi kanker. Pemeriksaan IVA hanya sebentar dan tidak sakit. Dapat dilakukan di praktek bidan atau puskesmas oleh dokter.
Pengobatan kanker yang memerlukan biaya besar, proses terapi yang tidak mudah, menimbulkan dampak psikologis bagi penderita dan mempengaruhi terhadap seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu sebaiknya sebagai seorang perempuan yang memperhatikan kesehatan diri dan mencintai keluarga berkeinginan untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.
Siapakah yang harus diperiksa kanker serviks?
Perempuan yang sudah menikah dan berumur 30 tahun – 50 tahun tahun. Pemeriksaan di ulang secara berkala setiap satu tahun
Bagaimana persiapan pemeriksaan IVA?
Tidak sedang haid, atas sepengetahuan dan dukungan suami.
Segera lakukan pemeriksaan kanker serviks melalui pap smear ataupun melalui IVA, SEBAGAI TANDA CINTA PADA KELUARGA.
Bidan (Tidak) Boleh Pasang KB (Untuk menjadi bahan renungan.)
Permenkes 149/2010 tentang praktek bidan kabarnya membatasi kewenangan bidan dalam memasang KB. Di dalam pasal 12 disebutkan kalau sebagian besar kewenangan tersebut hanya diberikan kepada bidan yang “menjalankan tugas pemerintah”, di luar itu kewenangan dalam pelayanan KB hanya memberi konseling dan melayani penggunaan kondom. Ada isu juga kalau pasal ini dikeluarkan karena ada dorongan kuat dari profesi dokter. Saya pikir ini kurang bisa dibenarkan, karena:
1. Continuity of care
Saya melihat pelayanan KB dan persalinan ada dalam satu continuum. Logis sekali kalau seorang bidan (praktik swasta) melayani seorang ibu dalam continuum ante-post partum. Kalau seorang ibu ingin menjarangkan kehamilan pasca melahirkan, kenapa harus dikirimkan ke dokter? Saya pikir potensi batal ber-KB-nya lebih besar daripada berhasil.
2. Pencapaian program KB
Ini alasan terkuat saya kenapa bidan (praktek swasta) sebaiknya diberi wewenang memberikan pelayanan KB. Sekarang, pelayanan KB lebih banyak didukung oleh sektor swasta ketimbang pemerintah. Per tahun 1997, lebih dari 40 persen pelayanan KB dilakukan oleh pelayanan swasta. Di antara orang miskin sekitar 45 persen dari pelayanan swasta ini diberikan oleh bidan praktek swasta, karena harganya lebih murah ketimbang dokter swasta. Saya tidak punya angka absolutnya, tapi ini pasti bukan jumlah yang sedikit. Sekarang bandingkan dengan cakupan dokter dan bidan. Kita punya 80,000an dokter dan 200,000an bidan. Apakah pemerintah bisa menjamin yang 45 persen ini 100 persen akan tertangani oleh dokter? Sedangkan penggunaan kondom hanya sekitar 1 persen dari seluruh pelayanan KB yang digunakan para akseptor. Belum lagi kita bicara tentang unmet need pelayanan KB sebesar hampir 9 persen.
3. Historis
Saya pikir kemajuan profesi bidan sekarang banyak sekali ditentukan oleh keinginan kuat pemerintah mengendalikan jumlah penduduk. Saya juga yakin, biaya yang dikeluarkan untuk melatih bidan supaya bisa melayani KB tidak sedikit. Lalu sekarang harus mengeluarkan uang untuk melatih (kembali) dokter? Saya bingung sekali, kenapa Kemenkes bisa mengeluarkan kebijakan yang a-historis seperti ini. Apakah Kemenkes tidak berkonsultasi dengan BKKBN? Aneh bin ajaib.
4. Etis-filosofis
Siapa yang berhak menentukan kompetensi suatu profesi? Lebih spesifik lagi, apakah PB-IDI/dokter berhak menentukan kompetensi bidan? Kalau sebagian dokter bilang “bidan tidak boleh pasang KB” dan sebagian lagi bilang “bidan boleh pasang KB” (seperti saya), pendapat dokter mana yang akan didengar? Kenapa? Lalu, kenapa tidak berlaku sebaliknya? Bidan sudah menolong persalinan sebelum profesi dokter ditemukan, bagaimana kalau bidan bilang melayani persalinan bukanlah kompetensi dokter?
1. Continuity of care
Saya melihat pelayanan KB dan persalinan ada dalam satu continuum. Logis sekali kalau seorang bidan (praktik swasta) melayani seorang ibu dalam continuum ante-post partum. Kalau seorang ibu ingin menjarangkan kehamilan pasca melahirkan, kenapa harus dikirimkan ke dokter? Saya pikir potensi batal ber-KB-nya lebih besar daripada berhasil.
2. Pencapaian program KB
Ini alasan terkuat saya kenapa bidan (praktek swasta) sebaiknya diberi wewenang memberikan pelayanan KB. Sekarang, pelayanan KB lebih banyak didukung oleh sektor swasta ketimbang pemerintah. Per tahun 1997, lebih dari 40 persen pelayanan KB dilakukan oleh pelayanan swasta. Di antara orang miskin sekitar 45 persen dari pelayanan swasta ini diberikan oleh bidan praktek swasta, karena harganya lebih murah ketimbang dokter swasta. Saya tidak punya angka absolutnya, tapi ini pasti bukan jumlah yang sedikit. Sekarang bandingkan dengan cakupan dokter dan bidan. Kita punya 80,000an dokter dan 200,000an bidan. Apakah pemerintah bisa menjamin yang 45 persen ini 100 persen akan tertangani oleh dokter? Sedangkan penggunaan kondom hanya sekitar 1 persen dari seluruh pelayanan KB yang digunakan para akseptor. Belum lagi kita bicara tentang unmet need pelayanan KB sebesar hampir 9 persen.
3. Historis
Saya pikir kemajuan profesi bidan sekarang banyak sekali ditentukan oleh keinginan kuat pemerintah mengendalikan jumlah penduduk. Saya juga yakin, biaya yang dikeluarkan untuk melatih bidan supaya bisa melayani KB tidak sedikit. Lalu sekarang harus mengeluarkan uang untuk melatih (kembali) dokter? Saya bingung sekali, kenapa Kemenkes bisa mengeluarkan kebijakan yang a-historis seperti ini. Apakah Kemenkes tidak berkonsultasi dengan BKKBN? Aneh bin ajaib.
4. Etis-filosofis
Siapa yang berhak menentukan kompetensi suatu profesi? Lebih spesifik lagi, apakah PB-IDI/dokter berhak menentukan kompetensi bidan? Kalau sebagian dokter bilang “bidan tidak boleh pasang KB” dan sebagian lagi bilang “bidan boleh pasang KB” (seperti saya), pendapat dokter mana yang akan didengar? Kenapa? Lalu, kenapa tidak berlaku sebaliknya? Bidan sudah menolong persalinan sebelum profesi dokter ditemukan, bagaimana kalau bidan bilang melayani persalinan bukanlah kompetensi dokter?
Bayi dengan Kelamin Ganda
Sahabat bidancare, saya mendapatkan satu berita yang perlu mendapat perhatian kita bersama. Mengapa? Masalah penentuan jenis kelamin merupakan hal yang sangat sensitif dan harus berdasarkan beberapa dasar pemeriksaan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu terkait agar di kemudian hari tidak terjadi kasus yang tidak kita inginkan. Beberapa dokter yang perlu dilibatkan antara lain dokter pediatrik ( spesialis anak) , dokter ahli endokrinologi ( hormon ), dan dokter bedah , lalu pendampingan perkembangan mental dalam pengawasan seorang psikolog anak .
Baru – baru ini kita telah mendengar tentang kasus Alterina hofan yang masuk penjara karena dituduh melakukan penipuan dan pemalsuan identitas jenis kelamin. Sementara itu Alterina sendiri merasa bahwa dia adalah laki – laki tulen. Menurut medis memang persoalan penentuan jenis kelamin ini merupakan satu hal yang sangat penting serta menyangkut masa depan seseorang. Sebagai bidan saya pernah menolong persalinan dengan masalah penentuan jenis kelamin. Dalam hal ini kita sangat hati – hati. Jika perlu dilakukan penundaan sampai diagnosa medis dapat ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan dan observasi masa tumbuh kembang.
Pada jaman dulu kelamin ganda disebut hermafrodit, dan sekarang diganti dengan diagnosa genetalia ambigus. Hal ini berkaitan erat dengan proses pembentukan organ alat kelamin pada masa embrional ( pertumbuhan mudigah ) dan organogenesis ( pembentukan organ ). Hiperplasia kelenjar adrenal kongenital merupakan salah satu topik yang sangat menarik dan erat kaitannya dengan kejadian genetalia ambigus. ( sumber ; Buku ajar endokrinologi 2010 )
Dalam artikel selanjutnya kita akan mewawancarai seorang dokter ahli endokrinologi yang kebetulan menjadi konsultan bidancare. Berikut ini saya tampilkan sebuah cuplikan berita dari kompas Jawa timur tanggal 5 Mei kemarin, yang memberitakan tentang seorang bayi dengan kelamin ganda.
Bayi yang baru berusia 18 hari, Rouf Fadilah Alby, harus menunggu kepastian jenis kelaminnya. Putra pasangan Dwi Teguh Supriyono, dan Wahyuni, warga desa wates kecamatan Panekan, Magetan Jawa Timur ini memiliki kelamin ganda. Dari hasil pemeriksaan tim medis di antara testis dan penis bayi ini ada lubang vagina. Dan buang air kecil tidak melalui ujung penis tetapi melalui lubang mirip vagina itu. Untuk memastikan jenis kelamin tersebut maka tim medis menyarankan agar bayi dioperasi di urologi RSUD dr Soedono Madiun. Operasi akan dilakukan setelah bayi berusia 6 bulan.
Mengenai operasi kelamin diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Sementara ini pembuatan akte kelahiran ditunda menunggu kepastian jennis kelamin. Orang tua bayi berharap bayi berjenis kelamin laki – laki. Dia berharap ada perhatian dari Pemkab Magetan untuk membiayai operasi tersebut.
Baru – baru ini kita telah mendengar tentang kasus Alterina hofan yang masuk penjara karena dituduh melakukan penipuan dan pemalsuan identitas jenis kelamin. Sementara itu Alterina sendiri merasa bahwa dia adalah laki – laki tulen. Menurut medis memang persoalan penentuan jenis kelamin ini merupakan satu hal yang sangat penting serta menyangkut masa depan seseorang. Sebagai bidan saya pernah menolong persalinan dengan masalah penentuan jenis kelamin. Dalam hal ini kita sangat hati – hati. Jika perlu dilakukan penundaan sampai diagnosa medis dapat ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan dan observasi masa tumbuh kembang.
Pada jaman dulu kelamin ganda disebut hermafrodit, dan sekarang diganti dengan diagnosa genetalia ambigus. Hal ini berkaitan erat dengan proses pembentukan organ alat kelamin pada masa embrional ( pertumbuhan mudigah ) dan organogenesis ( pembentukan organ ). Hiperplasia kelenjar adrenal kongenital merupakan salah satu topik yang sangat menarik dan erat kaitannya dengan kejadian genetalia ambigus. ( sumber ; Buku ajar endokrinologi 2010 )
Dalam artikel selanjutnya kita akan mewawancarai seorang dokter ahli endokrinologi yang kebetulan menjadi konsultan bidancare. Berikut ini saya tampilkan sebuah cuplikan berita dari kompas Jawa timur tanggal 5 Mei kemarin, yang memberitakan tentang seorang bayi dengan kelamin ganda.
Bayi yang baru berusia 18 hari, Rouf Fadilah Alby, harus menunggu kepastian jenis kelaminnya. Putra pasangan Dwi Teguh Supriyono, dan Wahyuni, warga desa wates kecamatan Panekan, Magetan Jawa Timur ini memiliki kelamin ganda. Dari hasil pemeriksaan tim medis di antara testis dan penis bayi ini ada lubang vagina. Dan buang air kecil tidak melalui ujung penis tetapi melalui lubang mirip vagina itu. Untuk memastikan jenis kelamin tersebut maka tim medis menyarankan agar bayi dioperasi di urologi RSUD dr Soedono Madiun. Operasi akan dilakukan setelah bayi berusia 6 bulan.
Mengenai operasi kelamin diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Sementara ini pembuatan akte kelahiran ditunda menunggu kepastian jennis kelamin. Orang tua bayi berharap bayi berjenis kelamin laki – laki. Dia berharap ada perhatian dari Pemkab Magetan untuk membiayai operasi tersebut.
HIPERTENSI
Apakah Hipertensi Itu ?
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Keadaan ini terjadi apabila tekanan darah pada arteri utama tubuh terlalu tinggi. Karena hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri, satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah kita secara teratur. Hipertensi merupakan kelainan yang diderita lebih dari 50 juta orang di amerika. Kelainan ini semakin sering dijumpai pada orang lanjut usia.
Apakah Penyebab Hipertensi?
9 dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat diidentifikasi penyebab dari penyakit mereka ini. . Hipertensi dapat diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Apabila salah satu dari orang tua Anda terkena hipertensi, kecenderungan Anda untuk menderita hipertensi lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki orang tua yang menderita hipertensi.
Resiko terkena hipertensi dapat diperkecil dengan cara : Mengontrol berat badan, Menjaga kebugaran, Menjaga pola makan yang seimbang dan membatasi konsumsi alkohol serta menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah. Faktor lain dengan kemungkinan yang lebih kecil sebagai penyebab hipertensi adalah adanya kelainan ginjal atau kelenjar endokrin. Hal ini dapat diketahui dengan pemeriksaan oleh dokter.
Dapatkah Hipertensi Berkembang Menjadi Penyakit Lain?
Ya, Hipertensi dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius atau bahkan kematian. Sering kali hipertensi disebut sebagai “silent killer” disebabkan 2 hal yaitu :
1. Sulit disadari karena tidak memiliki gejala khusus. Hal seperti pusing, gelisah, mimisan atau sakit kepala jarang berhubungan langsung dengan hipertensi. Hipertensi hanya dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah Anda secara teratur.
2. Hipertensi adalah pembunuh. Orang penderita hipertensi apabila tidak ditindaki mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, ketidak teraturan detak jantung dan gagal ginjal jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki hipertensi .
Apakah Arti Dari Nilai Tekanan Darah Anda?
Tekanan darah Anda biasanya diinformasikan dalam format angka seperti 120/80. Angka pertama disebut Systolic. Systolic mengindikasikan tekanan puncak pada arteri yakni pada saat jantung berdetak. Angka selanjutnya disebut Diastolic. Diastolic mengindikasikan tenkanan pada arteri pada saat jantung beristirahat diantara detaknya. Hal ini memberikan gambaran tentang seberapa besar daya tahanan arteri kecil terhadap aliran darah. Tekanan pada arteri besar merupakan kombinasi dari detak jantung dan tahanan arteri kecil. Orang usia muda penderita hipertensi cenderung memiliki detak jantung yang lebih kuat sedangkan orang usia tua cenderung memiliki tahanan arteri kecil yang lebih besar. Pada sebagian orang terutama yang berusia lanjut memiliki nilai systolic yang tinggi namun diastolic yang normal atau rendah. Hal ini disebut sebagai Isolated Systolic Hypertension dan mengisyaratkan bahya arteri mereka telah menjadi sangat kaku.
Berapakah Seharusnya Nilai Tekanan Darah?
Tekanan darah tidak memiliki nilai yang baku. Hal ini berbeda beda menurut aktifitas fisik, emosi, waktu siang/malam dan keadaan emosi lainnya. Oleh karena itu tekanan darah penting untuk dimonitor lebih dari satu waktu.
Hipertensi adalah nama lain dari tekanan darah tinggi. Keadaan ini terjadi apabila tekanan darah pada arteri utama tubuh terlalu tinggi. Karena hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri, satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah kita secara teratur. Hipertensi merupakan kelainan yang diderita lebih dari 50 juta orang di amerika. Kelainan ini semakin sering dijumpai pada orang lanjut usia.
Apakah Penyebab Hipertensi?
9 dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat diidentifikasi penyebab dari penyakit mereka ini. . Hipertensi dapat diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Apabila salah satu dari orang tua Anda terkena hipertensi, kecenderungan Anda untuk menderita hipertensi lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki orang tua yang menderita hipertensi.
Resiko terkena hipertensi dapat diperkecil dengan cara : Mengontrol berat badan, Menjaga kebugaran, Menjaga pola makan yang seimbang dan membatasi konsumsi alkohol serta menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah. Faktor lain dengan kemungkinan yang lebih kecil sebagai penyebab hipertensi adalah adanya kelainan ginjal atau kelenjar endokrin. Hal ini dapat diketahui dengan pemeriksaan oleh dokter.
Dapatkah Hipertensi Berkembang Menjadi Penyakit Lain?
Ya, Hipertensi dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang sangat serius atau bahkan kematian. Sering kali hipertensi disebut sebagai “silent killer” disebabkan 2 hal yaitu :
1. Sulit disadari karena tidak memiliki gejala khusus. Hal seperti pusing, gelisah, mimisan atau sakit kepala jarang berhubungan langsung dengan hipertensi. Hipertensi hanya dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah Anda secara teratur.
2. Hipertensi adalah pembunuh. Orang penderita hipertensi apabila tidak ditindaki mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, ketidak teraturan detak jantung dan gagal ginjal jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki hipertensi .
Apakah Arti Dari Nilai Tekanan Darah Anda?
Tekanan darah Anda biasanya diinformasikan dalam format angka seperti 120/80. Angka pertama disebut Systolic. Systolic mengindikasikan tekanan puncak pada arteri yakni pada saat jantung berdetak. Angka selanjutnya disebut Diastolic. Diastolic mengindikasikan tenkanan pada arteri pada saat jantung beristirahat diantara detaknya. Hal ini memberikan gambaran tentang seberapa besar daya tahanan arteri kecil terhadap aliran darah. Tekanan pada arteri besar merupakan kombinasi dari detak jantung dan tahanan arteri kecil. Orang usia muda penderita hipertensi cenderung memiliki detak jantung yang lebih kuat sedangkan orang usia tua cenderung memiliki tahanan arteri kecil yang lebih besar. Pada sebagian orang terutama yang berusia lanjut memiliki nilai systolic yang tinggi namun diastolic yang normal atau rendah. Hal ini disebut sebagai Isolated Systolic Hypertension dan mengisyaratkan bahya arteri mereka telah menjadi sangat kaku.
Berapakah Seharusnya Nilai Tekanan Darah?
Tekanan darah tidak memiliki nilai yang baku. Hal ini berbeda beda menurut aktifitas fisik, emosi, waktu siang/malam dan keadaan emosi lainnya. Oleh karena itu tekanan darah penting untuk dimonitor lebih dari satu waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)

















